Posted by: bensohib | July 1, 2007

MASJID AL-HEBOH

Tempat ibadah apa yang paling heboh? siapapun rasanya akan sepakat; masjid jawabnya. Untuk sebuah masjid kecil yang menampung sekitar 100 0rang jama’ah saja, dipastikan mempunyai corong/pengeras suara sebanyak 4 buah. Corong-corong yang dipasang di atas atap masjid itu meneriakkan azan dan suara-suara lainnya dari dalam masjid ke empat penjuru mata angin. Akibat dari kehebohan ini, dalam suatu kompleks perumahan, harga rumah yang berdekatan dengan masjid berbeda harganya dibandingkan dengan yang jauh dari masjid. Yang dekat masjid lebih murah harganya. Hal ini dikarenakan penghuni rumah yang berdekatan dengan masjid itu akan menghadapi resiko ‘keberisikan’. Polusi suara itu bisa berlangsung sepanjang hari. Dari mulai azan, komat, shalat, doa, zikir, tahlil, dan tahmid. Apalagi kalau malam Lebaran, acara takbiran yang disiarkan secara on air dari dalam masjid bisa berlangsung sampai menjelang subuh. Bagi yang ingin terjaga sepanjang malam lebaran, silakan berumah di sebelah masjid.

Mungkin sudah saatnya dipikirkan untuk membangun masjid yang ramah lingkungan; masjid yang tidak mengganggu tetangga. Sebuah masjid yang tenang dan damai. Tempat orang dengan syahdu menyembah Tuhannya.

Kebanyakan orang menganggap menyiarkan suara-suara dari dalam masjid dengan corong pengeras suara itu sebagai syi’ar. Inilah contoh pemahaman tekstual yang paling dungu. Syi’ar yang artinya sama dengan siar (menyiarkan) dipahami secara mentah-mentah sebagai ’menyiarkan dengan berteriak-teriak/dengan pengeras suara (agar terdengar di banyak telinga orang)’

Akibat dari pemahaman ini, jadilah masjid sebagai tempat ibadah yang paling heboh. Masjid menjadi tempat ibadah yang mewajibkan adanya corong pengeras suara di atapnya, agar sebanyak mungkin orang mendengar berbagai macam suara ’da’wah’ dari dalam masjid. Bagi para pengurus masjid, corong pengeras suara adalah wajib dalam pengertian yang sebenarnya. Rasa-rasanya belum pernah mendengar ada masjid (paling tidak di Jakarta) yang tidak memakai corong pengeras suara. Jika ada, saya sugguh-sungguh ingin berumah di sebelahnya. 


Responses

  1. Saya sebut masjid gituan sebagai “Hardrock Mosque”…selain tidak memahami makna syiar yang sesungguhnya, celakanya lagi…mereka juga tidak tahu tentang apa yang mereka syiarkan… ;-)

  2. kayaknya sebutan itu cukup mengena, minimal dalam kehingar-bingarannya.

  3. Itu berarti, masjid ‘full music’ bisa menjadi pengendali harga rumah dan kontarakan yg makin liar….

  4. o gitu ya, beb. jadi ada untungnya juga ya. Tapi para makelar kurang berkenan keliatannya….

  5. gile memang udeh bikin budek kayak gitu, ech masih aje ade orang gede yang kagak bise bace alfatehe …. mungkin budek kuping atawa budek ati, gue kagak tau gimane lagi carenye……

  6. salam,
    bapak bin sohib n sohib2 nya semuwa,
    afwan ya amalia ikut urun rembuk…
    masalah pengeras suara justru ana sangat sangat mendukung. buat ana malah terdengar sari, ntah adzan ntah suara tadarusan anak-anak yang suaranya kekana kekiri.
    bukan hanya masalah syiar, tp buat kita yang kupingnya terbisa dengan adzan, iqomah, tadarusan kampung, hati kok selalu berasa rindu. coba sesekali waktu ke australia, atau singapore (negara deket yg komunitas non muslim).
    bener bener rindu ama suara pengeras suara itu.
    karena minimal dari pengeras suara itu mengingatkan kita, ttg islam.
    dan afwan, di kota ana, rumah ana dikelilingi masjid2, kalo subuh, suaranya saut-sautan, justru disitu yang ana suka, terbiasa ama adzan.
    tapi mungkin buat bin sohib yang g suaka ama suara adzan, bisa pilih tinggal di prancis atau belanda, apa amerika, inggris. tapi kalo ternyata g mampu tinggal di negara2 barat, akhsan tinggal di goa, sepi tu pak… :P p yg jelas, kalian g bs tinggal di kota2 suci kayaknya ya, krn di mekkah, madinah, ana rasa juga sama, cuma beda dialek ama pembawaan.
    n noted ya, lebih milih kedengeran suara adzan?? yg bisa ngingetin nt buat sholat, buat ibadah, buat iman, atau pilih denger lonceng gereja??
    oh no, g sejauh itu, ana rasa, pada lebih milih denger lagu-lagunya peter pan, apa nidji, ama gun n roses, the police???

    afwan ya, cuma urun kata, karena ana g sependapat, ana cinta suasana kampung2, yang terdengar suara pengeras suara masjid.

    wassalam.

  7. Adakah yang diperdengarkan dari corong itu merupkan kemaksiatan ? Ataukah yang diperdengarkan (yang anda bilang “Polusi suara itu, yang dapat berlangsung sepanjang hari) adalah azan, komat, shalat, doa, zikir, tahlil, dan tahmid.

    Jika ada orang yang mendengar “suara-suara” tersebut adalah mereka-mereka yang tidak mengerti akan maknanya, maka sangatlah dimaklumi, sebagaimana kita mungkin mendengar lonceng dan nyanyian gereja… Tapi kalau ada orang, yang mengaku muslim, kemudian alergi dengan azan, komat, shalat, doa, zikir, tahlil, dan tahmid, apakah hal ini tidak aneh ?

    Coba dipikir-pikir siapa yang tidak suka dengan kalimat memuji Allah, tahlil, dlsb ? Siapa yang “panas” jika mendengar hal tersebut disenandungkan ? Kemudian mengeluarkan cacian-cacian (yang sepertinya tulisan awal masjid al heboh ini menjadi legitimasi atas bolehnya mengeluarkan cacian tersebut) seperti masjid hardrock, masjid full music. Sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang muslim. Ga ada akhlak.

    Antum harus introspeksi diri syuf, jangan-jangan antum termasuk golongan yang “panas” mendengar hal2 tersebut..

    Wal afu syuf

  8. Saya ucapkan terimaksih atas kedua komentar yg cukup brsemangat di atas. Saya tidak anti azan, zikir, dlsb. bahkan saya melakukannya. kebetulan, saya pernah tinggal di Sydney dan Amsterdam. Di dua kota tersebut, masjid dilarang menggunakan pengeras suara. terus-terang, saya rindu suara azan (berkaitan dngn homesick?). Lalu saya masuk ke salah satu masjid di sana. Saya mendengarkan orang membaca al-Quran, sungguh syahdu suasananya. Saya tidak “panas” mendengarnya. Tapi saya harus jujur kepada Anda, di Indonesia (khususnya di lingkungan rumah saya) saya “panas” mendengar suara2 memekakkan telinga dari masjid. Kalimat2 suci selayaknaya diucapkan dengan lembut dan santun, tidak mengganggu ketenangan dan waktu istirahat tetangga. Kalimat2 suci tdk pantas diucapkan dengan ugal-ugalan seperti lagu rock yg hingar-bingar. Jangan biarkan kalimat2 suci berubah menjadi polusi suara. Berhati-hatilah dengan kalimat2 suci. Jangan sembarangan. Dan percayalah, tidak semua orang gemar dengan hingar-bingar. Apakah tidak terpikirkan ada tetangga yang sakit atau sedang belajar dan membutukan suasana yang tenang? Akhirnya saya ingin bertanya. Jika berbisik saja sudah terdengar, mengapa Anda harus berteriak-teriak? Wassalam wal ‘alafu minkum.

  9. Lha ini baru menarik, walaupun mungkin tidak di sini tempatnya. Tapi tak jadi soal besar bukan? Soal setuju atawa tdk setuju dengan suara “keras” dan “melengking” dari azan mesjid dan langgar sebelah rumah, juga bukan soal yang terlalu besar bukan ?
    Tapi rasa-rasanya semua orang akan setuju, kalau- ini kalau yaa- azan itu seperti yang sering digambarkan di novel2 atawa di film2 ( biasanya film Barat ); … yang mengalun memecah kesunyian. Menyentuh hati yang paling dalam untuk selalu ingat akan DIA.
    Kalau yang begini kelihatannya semua orang tidak akan protes2an. Willy Surendra Rendra, memulai langkahnya untuk memeluk Islam adalah, ketika dia mendengar suara azan subuh yang lirih mengalun di sebuah kota yang namanya New York.
    Lha kalau yang kita denger memang “lengkingan” dan ” jeritan”, dan sering “balapan” antara satu mesjid dengan mesjid lainnya dalam radius yang tidak terlalu jauh. Apa kira2 yang harus kita sampaikan yaa ……?
    Belum lagi ditambah dengan suara Amiiiinn ketika solat, yang terus terang saja centang perenang.
    Tanpa pretensi memihak manapun, tulisan Ben rasanya harus bisa dijadikan sebuah wacana dan sebuah oto-kritik.
    Kalau saja ini sebuah kenyataan, apa kira2 yang harus kita sampaikan yaa…..? Tentu saja, sampaikan terus Ben walau itu pahit.
    Wallahualam. Danke

  10. Bib.. ana rasa tidak ada yang ugal-ugalan dalam mengumandangkan hal-hal tersebut dimasjid… Siapa pula yang menjadikannya seperti musik rock, dll ???? Antum terlalu melebih-lebihkan, dan akhirnya menjadi tidak pantas antum berlaku demikian.

    Ana kalau lagi belajar atau sakit mendengar itu insyaAllah malah inget sama Allah. Inget semua-semua yang ana lakuin semata-mata karena Allah. Semua-semua yang menimpa ana semata-mata karena Allah… Ya usaha ana, ya sakit ana. Hasbiy Rabbiy Jalallah…

    Wa karena antum pernah tinggal di luar negri, pernahkah antum dengar orang-orang sana memprotes suara lonceng-lonceng gereja.. nyanyian-nyanyian gereja ??? Paling-paling yang ga suka sama itu semua ya model-model orang yang jauh dari agama (macam atheis mungkin, atau berandalan jalanan).

    Mungkin cuma di sini aja, pemikiran yang terlalu bebas berkembang, jadi orang-orang pada mikir kebablasan, tanpa ada batasan etika.

    Afwan bib, ana bukan mau memojokkan nt. CUma pengen ngajak aja supaya jangan terlalu “vulgar” berpendapat sehingga berkesan nt kurang beretika. Karena mungkin orang lain berpenafsiran berbeda dengan nt. Nt pasti bukan orang yang ingin selalu berbeda sendiri bukan ?

  11. jujur… belum pernah saya dengar dari speaker masjid, segala hal yg bisa disebut “teriak-teriak”….
    alhamdulillah tempat saya tinggal saat ini, dikelilingi masjid2 yg normal…. suara azan…pengajian…ceramah… normal aja tuh.. jauh dari kata teriak… emang di daerah mana ada masjid teriak2?

  12. Saya tidak merasa dipojokkan karena saya tahu bahwa ukuran pantas tidak pantas, beretika tidak beretika, ugal-ugalan tidak ugal-ugalan, dan teriak-teriak tidak teriak-teriak itu bagi setiap orang berbeda. Mungkin yang bagi saya terlihat ugal-ugalan, bagi Anda biasa saja. Bagi saya terdengar teriak-teriak, bagi Anda terdengar wajar saja. Begitulah, setiap kepala mempunyai persepsi yg berbeda-beda. Tapi itu sah-sah saja. Sepanjang tidak menggangu tetangga……

  13. If then, i will say Alhamdulillah … Barakallahu fik

  14. memang ternyata bukan masalah yang besar benar, lha tak iyaa dik

  15. Saya setuju dik, ini buat sampeyan bukan masalah besar. Tapi coba adik tanya sama makelar-makelar profesional (makelar sekelas Alex Sibaba alias Ali So’od); rumah pinggir masjid bagaimana? Pasti adik akan terkejut dan bilang, “Abooo, begitu dik, ya?”

  16. Hehehe…
    “INI LHO AKU, SEDANG SEMBAHYANG, LU SEMUA PADA DENEGRIN YACH!!

    ;) ))

  17. muadzdzin = orang yang di idzinkan
    klo sudah benar2 di idzinkan oleh Allah untuk beradzan, maka pendapat dari bensohib ini g akan keluar…. klo cuma merasa di idzinkan ya gitu deh…
    adzan seharusnya mengorek telinga orang2 yang mendengarnya dari kotoran2. korekan2 mensucikan ini hanya bisa keluar dari seorang muadzin yang sesungguhnya. contohnya ya seperti yang di dengan WS rendra di new york itu… ada buktinya gitu loh…

    kost ana di jogja deket mesjid, tapi adzan nya bisa ana kategorikan sebagai “sedikit” mengganggu.
    mbok ya yang adzan itu dipilih yang suaranya merdu dan fasih gitu looo….
    tapi ya di sisi lain ga masalah, lha dari pada g ada yang adzan?
    tapi ana akui juga kadang ada yang suaranya merdu ikutan adzan, cuma lebih sering engga nya… sayang…

    nah… serba salah nya… di indonesia terlalu banyak masjid, akhirnya pengelolaan nya jadi amburadul. yang kotor lah, korupsi lah… apa lah…

    mbangun mesjid seperti jadi perlombaan aja seperti bangun real estate. mestinya masjid ga perlu banyak2… jangan terlalu berdekatan dan yang penting jadi sentra spiritualitas ummat di sekitarnya, pendingin suasana ummat di sekitarnya… bukan malah memancing komentar semacam komentar bensohib ini….

  18. Saya setuju dengan kerisauan bensohib,
    Sepertinya perlu ada yang menjelaskan makna ayat:
    Ud’u rabbakum tadharru’an wa khufyah innahu la yuhibbul mu’tadin (Al-A’raf: 55)
    Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan kerendahan hati dan suara yang lirih, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..

    Kalau gak salah, dulu ada sahabat Nabi yang teriak-teriak berdoa menyeru nama Allah, Nabi melarangnya. Terus keadaan ini jadi asbabunnuzul (sebab diturunkan) ayat ini. sekali lagi Kalau saya gak salah..

  19. Al Quran itu adalah manual book
    untuk hidup dengan cara Islam, bukan hanya sekumpulan puisi atau syair yang harus di-lagu-kan dengan indah belaka, apalagi sekumpulan mantera atau jampi seperti pengusir setan dll. Jadi janganlah mengedepankan pe-lagu-an ayat2 tersebut tetapi mengesampingkan makna, perintah, larangan yang terkandung di lamanya, yang harus dilakoni sehari2. ironis kan, kita me-lagu-kan ayat2 tersebut dengan indah, dan makna yang terkandung juga indah, tetapi tidak pada waktu yang tepat, apalagi sampe menyiksa atau ganggu sesama. bagaimanapun, berpuasa bukan untuk menyiksa diri, karena itu berdosa kita gak buka puasa pada waktunya. Tubuh punya hak untuk beristirahat, jangan menzalimi tubuh sendiri, apalagi tubuh orang lain. Jangan samaratakan kemampuan fisik setiap orang, belum tentu semua orang tahan gak istirahat atau cuma 2 jam tidur sehari semalam selama sebulan. Belum lagi kalo ada tetangga yang sakit, memiliki bayi, dll. Ini baru asumsi sesama muslim, bagaimana yang non-muslim?
    Jadi mana yang mau kita pilih, jadi muslim sejati yang menjaga tenggang rasa, atau islam egois yang memaksa semua orang mengikuti mau kita dengan dalih syi’ar?

  20. Hebat sudah setahun lebih, blog ini ditulis tapi tetap mendapat sambutan yang “panas” !
    Antara setuju dan tidak setuju adalah suatu hal yang bersifat perasaan individual bila tidak berdasarkan suatu aturan.
    Begitu juga masalah corong masjid yang “memekakan” telinga, mungkin ada baiknya diambilkan suatu dasar yang pernah terjadi dijaman Rasulullah saw, dimana disaat ada orang yang tertidur di masjid yang terganggu dengan suara orang yang sedang mengaji, dimana Rasulullah saw serta merta menyalahkan si “pembaca” karena mengganggu orang yang tidur. Apakah keterangan ini menjadi lemah saat ini karena adanya anggapan dari para sohib yang menyatakan bahwa corong masjid ini termasuk syi’ar yang tidak termasuk secara implisit juga tertegur oleh Rasulullah saw dalam kisah di atas ?!
    Sesungguhnya seandainya dianggap sebagai syi’ar, bolehlah para sohib yang setuju pada anggapan ini melihat atau mensurvey secara langsung seberapa berhasil dibandingkan “kerugiannya” yang sudah terjadi?
    Kenapa saya menyebutkan sebagai kerugian, karena alasan berikut ini :
    1. Sholat itu diutamakan didirikan diawal waktu, dengan adanya corong itu secara tidak sadar “justru” menimbulkan “kemalasan” untuk mempersiapkan diri, karena paling tidak merasa toh nanti ada adzan. Padahal kalau kita ingin mengawalkan sholat tentunya kita seharusnya harus mempunyai jadwal sholat sendiri, sehingga paling tidak 5 menit sebelum waktu sholat sudah mempersiapkan diri. Lalu buat apa corong itu dikeraskan, toh kita sudah tidak memerlukan “pengingat” selain dari “jadwal” dan “jam” yang sudah tersedia ?
    2. Apakah orang non muslim itu adalah non muslim ? Jawabnya TIDAK ! Karena sesungguhnya, banyak hal yang tidak “simpatik” yang “telah di demokan” oleh para shohib yang setuju dengan adanya “Corong” itu. Bagaimana “Orang Islam” itu bisa merasakan penderitaan “orang” (bukankah bisa jadi di tetangga berdekatan dengan corong masjid tersebut itu ada orang sakit yang memerlukan istirahat, belajar, dll) yang memerlukan “ketenangan”. Sungguh besar fitnah Islam yang ditimbulkan oleh corong-corong ini ! Ini terbukti banget dari pengalaman saya bahwa teman-teman non-muslim yang mempermasalahkan ini.
    3. Syiar macam apakah yang dimaksudkan dengan suara keras ini ? Banyak kok orang yang bersebelahan dengan Masjid semacam ini justru tenang tenteram tidak bersegera mendatangi Masjid tersebut, bahkan “justru” corong ini MEMALASKAN orang dengan bersantai-santai menunggu saat Iqomah, dan ini benar-benar yant terjadi ! Buat shohib yang bersangkutan harap teliti dan membuka hari.
    4. Kalo memang shohib yang setuju dengan corong ini tetap merasa bahwa ini adalah syiar (sampai membaca tullisan saya ini) maka cobalah mengikuti saran saya berikut ini : – “PASTI” meskipun shohib menggunakan corong tersebut, tidak dipungkiri Shaf-shaf masih tetap longgar kan ?! Mengapa tidak sekalian ditambah aja corong itu, kalau perlu hinga tiap-tiap rumah ada corong tersendiri !!! Bukankah ini ide yang “Bagus” agar shaf cepat terpenuhi ?!
    5. Saya hingga saat ini “TIDAK” melihat satupun dari Hamba Allah yang “merasa” beriman dengan adanya “corong” ini, yang mereka bisa ikhlas mendoakan orang lain agar kaya, sukses, mendapat surga lebih dari dirinya, dan kalau perlu justru bersyi’ar dengan membagi makanan dan uang kepada orang disekitarnya sehingga orang berdatangan ! Konyolnya yang terjadi adalah mereka “malah” menyenangi “pemberian” !
    6. Ingatlah bahwa bukan “shohib” aja yang mempunyai hak untuk beribadah, orang lain ingin juga menikmati 1/3 waktu terakhir dengan berduaan dengan khidmad dan khusuk dengan Allah swt, jangan ganggu waktu istimewa itu dengan corong-2 itu. Mereka tahu kok jam sholat shubuh, bahkan lebih awal dari “shohib” menjalankan ibadah dan lebih bersemangat dalam syiar, tapi “shohib” cukup mengganggu syiar mereka dalam mencari Hamba Allah yang lainnya.
    7. Apakah shohib pernah belajar ilmu kedokteran ? Apakah shohib termasuk orang yang melawan ilmu kedokteran, padahal anak perempuan Rasulullah saw, sangat piawai dalam mengobati luka Beliau, artinya Beliau sangat menghargai ilmu kedokteran. Maksud saya, bahwa paparan tekanan suara diatas 100 dB selama minimal 5 menit berpotensi untuk menimbulkan kerusakan pendengaran minimal 10%. Jika berulang-ulang maka 30-60% berpotensi akan hilang kemampuan dengar orang2 yang berada disekitarnya.
    8. Rasulullah saw, dikenal dengan suaranya yang lemah lembut, dan enak didengar. Apakah “shohib” termasuk umatnya? Karena ‘Barang siapa mengabaikan sunnahku maka bukan termasuk golonganku”, jadi jelaslah “corong” itu sama sekali bukan “syi’ar” seperti anggapan shohib, karena sudah banyak yang merasa dirugikan tetapi kebanyakan mereka “takut” atas keberanian “jihad” shohib !
    9. “Corong” itu shohib, lebih cenderung sebagai “Penumuman Munafiqin”, karena lebih cenderung merasa lebih beriman dengan berlindung dibalik “syi’ar”, kalau “shohib” terpaksa harus menggunakan corong kenapa tidak mencontoh dengan suara corong yang ada di “Masjidil Haram” dan “Masjid Nabawi” yang sangat terdengar merdu dan tidak menyakitkan telinga ? Sudah pasti “duit” shohib harus “tebal” untuk bisa “syiar” dengan baik, bukan dengan modal tipis malah ngatain orang lain kurang beriman dari pada shohib!!!

    Nah ini saya cukupkan dengan 9 (songo), semoga shohib yang setuju bercorong ria bisa mempelajari semangat dan cara para wali sanga untuk mendekati umat dengan lemah lembut, bukan dengan gaya penjajah. Karena hanya dengan hati yang baik iman bisa bermanfaat buat orang lain dan diri kita. Maaf bila ada kata-kata yang menyakitkan/salah.

    http://sholatmusafir.blogspot.com

  21. Di rumah Ortu saya lucu juga, bukan jamnya sholat tapi speaker luar dipakai utk ibu-ibu yg lagi belajar ngaji. Jam 10 pagi lagi!…..

    Nah, si gurunya pakai Mike, sementara si murid (ibu-ibu) itu ga pakai mike. Si gurunya itu galak banget kalau ngajar, jadi sering kedengar dia marah-marah “Ibu, bacanya harus begini…..”, “Ibu gimana sih, tadi coba diulangi”, “Hayo Ibu-ibu sekali lagi, JANGAN SALAH!!”.

    Nah, masalahnya kan si Ibu-ibu itu ga pegang mike….yang terjadi kita yg di rumah seperti dengar orang lagi marah-marah sendiri….!! Kalau dia membentak ga ada jawabannya,…terus dia ngebentak lagi. Kalau dia bilang hayo ulangi lagi…trus hening sejenak…. tiba-tiba ada suara marah-marah lagi… (karena mungkin si Ibu salah) . Lucu ga?…itu keluar dari speaker mesjid.

    Orang yg istirahat terganggu, orang yg ga ngerti berpikir ada orang sedang mempermainkan mesjid.

    Menurut saya, utk belajar ngaji…ga perlu mike lah, bahkan speaker dalam juga dimatikan. Namanya juga belajar, pasti ada yg salah ngucap…. lah ini kok malah disebar-sebarkan.


Leave a response

Your response:

Categories