<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: MASJID AL-HEBOH</title>
	<atom:link href="http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/</link>
	<description>Menoelis Atawa Tiada Menoelis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Mar 2009 05:12:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Ed-win-Bert</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-1922</link>
		<dc:creator>Ed-win-Bert</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 05:12:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-1922</guid>
		<description>Di rumah Ortu saya lucu juga, bukan jamnya sholat tapi speaker luar dipakai utk ibu-ibu yg lagi belajar ngaji. Jam 10 pagi lagi!…..

Nah, si gurunya pakai Mike, sementara si murid (ibu-ibu) itu ga pakai mike. Si gurunya itu galak banget kalau ngajar, jadi sering kedengar dia marah-marah “Ibu, bacanya harus begini…..”, “Ibu gimana sih, tadi coba diulangi”, “Hayo Ibu-ibu sekali lagi, JANGAN SALAH!!”.

Nah, masalahnya kan si Ibu-ibu itu ga pegang mike….yang terjadi kita yg di rumah seperti dengar orang lagi marah-marah sendiri….!! Kalau dia membentak ga ada jawabannya,…terus dia ngebentak lagi. Kalau dia bilang hayo ulangi lagi…trus hening sejenak…. tiba-tiba ada suara marah-marah lagi… (karena mungkin si Ibu salah) . Lucu ga?…itu keluar dari speaker mesjid.

Orang yg istirahat terganggu, orang yg ga ngerti berpikir ada orang sedang mempermainkan mesjid.

Menurut saya, utk belajar ngaji…ga perlu mike lah, bahkan speaker dalam juga dimatikan. Namanya juga belajar, pasti ada yg salah ngucap…. lah ini kok malah disebar-sebarkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di rumah Ortu saya lucu juga, bukan jamnya sholat tapi speaker luar dipakai utk ibu-ibu yg lagi belajar ngaji. Jam 10 pagi lagi!…..</p>
<p>Nah, si gurunya pakai Mike, sementara si murid (ibu-ibu) itu ga pakai mike. Si gurunya itu galak banget kalau ngajar, jadi sering kedengar dia marah-marah “Ibu, bacanya harus begini…..”, “Ibu gimana sih, tadi coba diulangi”, “Hayo Ibu-ibu sekali lagi, JANGAN SALAH!!”.</p>
<p>Nah, masalahnya kan si Ibu-ibu itu ga pegang mike….yang terjadi kita yg di rumah seperti dengar orang lagi marah-marah sendiri….!! Kalau dia membentak ga ada jawabannya,…terus dia ngebentak lagi. Kalau dia bilang hayo ulangi lagi…trus hening sejenak…. tiba-tiba ada suara marah-marah lagi… (karena mungkin si Ibu salah) . Lucu ga?…itu keluar dari speaker mesjid.</p>
<p>Orang yg istirahat terganggu, orang yg ga ngerti berpikir ada orang sedang mempermainkan mesjid.</p>
<p>Menurut saya, utk belajar ngaji…ga perlu mike lah, bahkan speaker dalam juga dimatikan. Namanya juga belajar, pasti ada yg salah ngucap…. lah ini kok malah disebar-sebarkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Deddy R</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-997</link>
		<dc:creator>Deddy R</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 12:38:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-997</guid>
		<description>Hebat sudah setahun lebih, blog ini ditulis tapi tetap mendapat sambutan yang &quot;panas&quot; !
Antara setuju dan tidak setuju adalah suatu hal yang bersifat perasaan individual bila tidak berdasarkan suatu aturan.
Begitu juga masalah corong masjid yang &quot;memekakan&quot; telinga, mungkin ada baiknya diambilkan suatu dasar yang pernah terjadi dijaman Rasulullah saw, dimana disaat ada orang yang tertidur di masjid yang terganggu dengan suara orang yang sedang mengaji, dimana Rasulullah saw serta merta menyalahkan si &quot;pembaca&quot; karena mengganggu orang yang tidur. Apakah keterangan ini menjadi lemah saat ini karena adanya anggapan dari para sohib yang menyatakan bahwa corong masjid ini termasuk syi&#039;ar yang tidak termasuk secara implisit juga tertegur oleh Rasulullah saw dalam kisah di atas ?!
Sesungguhnya seandainya dianggap sebagai syi&#039;ar, bolehlah para sohib yang setuju pada anggapan ini melihat atau mensurvey secara langsung seberapa berhasil dibandingkan &quot;kerugiannya&quot; yang sudah terjadi?
Kenapa saya menyebutkan sebagai kerugian, karena alasan berikut ini :
1. Sholat itu diutamakan didirikan diawal waktu, dengan adanya corong itu secara tidak sadar &quot;justru&quot; menimbulkan &quot;kemalasan&quot; untuk mempersiapkan diri, karena paling tidak merasa toh nanti ada adzan. Padahal kalau kita ingin mengawalkan sholat tentunya kita seharusnya harus mempunyai jadwal sholat sendiri, sehingga paling tidak 5 menit sebelum waktu sholat sudah mempersiapkan diri. Lalu buat apa corong itu dikeraskan, toh kita sudah tidak memerlukan &quot;pengingat&quot; selain dari &quot;jadwal&quot; dan &quot;jam&quot; yang sudah tersedia ?
2. Apakah orang non muslim itu adalah non muslim ? Jawabnya TIDAK ! Karena sesungguhnya, banyak hal yang tidak &quot;simpatik&quot; yang &quot;telah di demokan&quot; oleh para shohib yang setuju dengan adanya &quot;Corong&quot; itu. Bagaimana &quot;Orang Islam&quot; itu bisa merasakan penderitaan &quot;orang&quot; (bukankah bisa jadi di tetangga berdekatan dengan corong masjid tersebut itu ada orang sakit yang memerlukan istirahat, belajar,  dll) yang memerlukan &quot;ketenangan&quot;. Sungguh besar fitnah Islam yang ditimbulkan oleh corong-corong ini ! Ini terbukti banget dari pengalaman saya bahwa teman-teman non-muslim yang mempermasalahkan ini.
3. Syiar macam apakah yang dimaksudkan dengan suara keras ini ? Banyak kok orang yang bersebelahan dengan Masjid semacam ini justru tenang tenteram tidak bersegera mendatangi Masjid tersebut, bahkan &quot;justru&quot; corong ini MEMALASKAN orang dengan bersantai-santai menunggu saat Iqomah, dan ini benar-benar yant terjadi ! Buat shohib yang bersangkutan harap teliti dan membuka hari.
4. Kalo memang shohib yang setuju dengan corong ini tetap merasa bahwa ini adalah syiar (sampai membaca tullisan saya ini) maka cobalah mengikuti saran saya berikut ini : - &quot;PASTI&quot; meskipun shohib menggunakan corong tersebut, tidak dipungkiri Shaf-shaf masih tetap longgar kan ?! Mengapa tidak sekalian ditambah aja corong itu, kalau perlu hinga tiap-tiap rumah ada corong tersendiri !!! Bukankah ini ide yang &quot;Bagus&quot; agar shaf cepat terpenuhi ?!
5. Saya hingga saat ini &quot;TIDAK&quot; melihat satupun dari Hamba Allah yang &quot;merasa&quot; beriman dengan adanya &quot;corong&quot; ini, yang mereka bisa ikhlas mendoakan orang lain agar kaya, sukses, mendapat surga lebih dari dirinya, dan kalau perlu  justru bersyi&#039;ar dengan membagi makanan dan uang kepada orang disekitarnya sehingga orang berdatangan ! Konyolnya yang terjadi adalah mereka &quot;malah&quot; menyenangi &quot;pemberian&quot; !
6. Ingatlah bahwa bukan &quot;shohib&quot; aja yang mempunyai hak untuk beribadah, orang lain ingin juga menikmati 1/3 waktu terakhir dengan berduaan dengan khidmad dan khusuk dengan Allah swt, jangan ganggu waktu istimewa itu dengan corong-2 itu. Mereka tahu kok jam sholat shubuh, bahkan lebih awal dari &quot;shohib&quot; menjalankan ibadah dan lebih bersemangat dalam syiar, tapi &quot;shohib&quot; cukup mengganggu syiar mereka dalam mencari Hamba Allah yang lainnya.
7. Apakah shohib pernah belajar ilmu kedokteran ? Apakah shohib termasuk orang yang melawan ilmu kedokteran, padahal anak perempuan Rasulullah saw, sangat piawai dalam mengobati luka Beliau, artinya Beliau sangat menghargai ilmu kedokteran. Maksud saya, bahwa paparan tekanan suara diatas 100 dB selama minimal 5 menit berpotensi untuk menimbulkan kerusakan pendengaran minimal 10%. Jika berulang-ulang maka 30-60% berpotensi akan hilang kemampuan dengar orang2 yang berada disekitarnya. 
8. Rasulullah saw, dikenal dengan suaranya yang lemah lembut, dan enak didengar. Apakah &quot;shohib&quot; termasuk umatnya? Karena &#039;Barang siapa mengabaikan sunnahku maka bukan termasuk golonganku&quot;, jadi jelaslah &quot;corong&quot; itu sama sekali bukan &quot;syi&#039;ar&quot; seperti anggapan shohib, karena sudah banyak yang merasa dirugikan tetapi kebanyakan mereka &quot;takut&quot; atas keberanian &quot;jihad&quot; shohib !
9. &quot;Corong&quot; itu shohib, lebih cenderung sebagai &quot;Penumuman Munafiqin&quot;, karena lebih cenderung merasa lebih beriman dengan berlindung dibalik &quot;syi&#039;ar&quot;, kalau &quot;shohib&quot; terpaksa harus menggunakan corong kenapa tidak mencontoh dengan suara corong yang ada di &quot;Masjidil Haram&quot; dan &quot;Masjid Nabawi&quot; yang sangat terdengar merdu dan tidak menyakitkan telinga ? Sudah pasti &quot;duit&quot; shohib harus &quot;tebal&quot; untuk bisa &quot;syiar&quot; dengan baik, bukan dengan modal tipis malah ngatain orang lain kurang beriman dari pada shohib!!!

Nah ini saya cukupkan dengan 9 (songo), semoga shohib yang setuju bercorong ria bisa mempelajari semangat dan cara para wali sanga untuk mendekati umat dengan lemah lembut, bukan dengan gaya penjajah. Karena hanya dengan hati yang baik iman bisa bermanfaat buat orang lain dan diri kita. Maaf bila ada kata-kata yang menyakitkan/salah.



http://sholatmusafir.blogspot.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hebat sudah setahun lebih, blog ini ditulis tapi tetap mendapat sambutan yang &#8220;panas&#8221; !<br />
Antara setuju dan tidak setuju adalah suatu hal yang bersifat perasaan individual bila tidak berdasarkan suatu aturan.<br />
Begitu juga masalah corong masjid yang &#8220;memekakan&#8221; telinga, mungkin ada baiknya diambilkan suatu dasar yang pernah terjadi dijaman Rasulullah saw, dimana disaat ada orang yang tertidur di masjid yang terganggu dengan suara orang yang sedang mengaji, dimana Rasulullah saw serta merta menyalahkan si &#8220;pembaca&#8221; karena mengganggu orang yang tidur. Apakah keterangan ini menjadi lemah saat ini karena adanya anggapan dari para sohib yang menyatakan bahwa corong masjid ini termasuk syi&#8217;ar yang tidak termasuk secara implisit juga tertegur oleh Rasulullah saw dalam kisah di atas ?!<br />
Sesungguhnya seandainya dianggap sebagai syi&#8217;ar, bolehlah para sohib yang setuju pada anggapan ini melihat atau mensurvey secara langsung seberapa berhasil dibandingkan &#8220;kerugiannya&#8221; yang sudah terjadi?<br />
Kenapa saya menyebutkan sebagai kerugian, karena alasan berikut ini :<br />
1. Sholat itu diutamakan didirikan diawal waktu, dengan adanya corong itu secara tidak sadar &#8220;justru&#8221; menimbulkan &#8220;kemalasan&#8221; untuk mempersiapkan diri, karena paling tidak merasa toh nanti ada adzan. Padahal kalau kita ingin mengawalkan sholat tentunya kita seharusnya harus mempunyai jadwal sholat sendiri, sehingga paling tidak 5 menit sebelum waktu sholat sudah mempersiapkan diri. Lalu buat apa corong itu dikeraskan, toh kita sudah tidak memerlukan &#8220;pengingat&#8221; selain dari &#8220;jadwal&#8221; dan &#8220;jam&#8221; yang sudah tersedia ?<br />
2. Apakah orang non muslim itu adalah non muslim ? Jawabnya TIDAK ! Karena sesungguhnya, banyak hal yang tidak &#8220;simpatik&#8221; yang &#8220;telah di demokan&#8221; oleh para shohib yang setuju dengan adanya &#8220;Corong&#8221; itu. Bagaimana &#8220;Orang Islam&#8221; itu bisa merasakan penderitaan &#8220;orang&#8221; (bukankah bisa jadi di tetangga berdekatan dengan corong masjid tersebut itu ada orang sakit yang memerlukan istirahat, belajar,  dll) yang memerlukan &#8220;ketenangan&#8221;. Sungguh besar fitnah Islam yang ditimbulkan oleh corong-corong ini ! Ini terbukti banget dari pengalaman saya bahwa teman-teman non-muslim yang mempermasalahkan ini.<br />
3. Syiar macam apakah yang dimaksudkan dengan suara keras ini ? Banyak kok orang yang bersebelahan dengan Masjid semacam ini justru tenang tenteram tidak bersegera mendatangi Masjid tersebut, bahkan &#8220;justru&#8221; corong ini MEMALASKAN orang dengan bersantai-santai menunggu saat Iqomah, dan ini benar-benar yant terjadi ! Buat shohib yang bersangkutan harap teliti dan membuka hari.<br />
4. Kalo memang shohib yang setuju dengan corong ini tetap merasa bahwa ini adalah syiar (sampai membaca tullisan saya ini) maka cobalah mengikuti saran saya berikut ini : &#8211; &#8220;PASTI&#8221; meskipun shohib menggunakan corong tersebut, tidak dipungkiri Shaf-shaf masih tetap longgar kan ?! Mengapa tidak sekalian ditambah aja corong itu, kalau perlu hinga tiap-tiap rumah ada corong tersendiri !!! Bukankah ini ide yang &#8220;Bagus&#8221; agar shaf cepat terpenuhi ?!<br />
5. Saya hingga saat ini &#8220;TIDAK&#8221; melihat satupun dari Hamba Allah yang &#8220;merasa&#8221; beriman dengan adanya &#8220;corong&#8221; ini, yang mereka bisa ikhlas mendoakan orang lain agar kaya, sukses, mendapat surga lebih dari dirinya, dan kalau perlu  justru bersyi&#8217;ar dengan membagi makanan dan uang kepada orang disekitarnya sehingga orang berdatangan ! Konyolnya yang terjadi adalah mereka &#8220;malah&#8221; menyenangi &#8220;pemberian&#8221; !<br />
6. Ingatlah bahwa bukan &#8220;shohib&#8221; aja yang mempunyai hak untuk beribadah, orang lain ingin juga menikmati 1/3 waktu terakhir dengan berduaan dengan khidmad dan khusuk dengan Allah swt, jangan ganggu waktu istimewa itu dengan corong-2 itu. Mereka tahu kok jam sholat shubuh, bahkan lebih awal dari &#8220;shohib&#8221; menjalankan ibadah dan lebih bersemangat dalam syiar, tapi &#8220;shohib&#8221; cukup mengganggu syiar mereka dalam mencari Hamba Allah yang lainnya.<br />
7. Apakah shohib pernah belajar ilmu kedokteran ? Apakah shohib termasuk orang yang melawan ilmu kedokteran, padahal anak perempuan Rasulullah saw, sangat piawai dalam mengobati luka Beliau, artinya Beliau sangat menghargai ilmu kedokteran. Maksud saya, bahwa paparan tekanan suara diatas 100 dB selama minimal 5 menit berpotensi untuk menimbulkan kerusakan pendengaran minimal 10%. Jika berulang-ulang maka 30-60% berpotensi akan hilang kemampuan dengar orang2 yang berada disekitarnya.<br />
8. Rasulullah saw, dikenal dengan suaranya yang lemah lembut, dan enak didengar. Apakah &#8220;shohib&#8221; termasuk umatnya? Karena &#8216;Barang siapa mengabaikan sunnahku maka bukan termasuk golonganku&#8221;, jadi jelaslah &#8220;corong&#8221; itu sama sekali bukan &#8220;syi&#8217;ar&#8221; seperti anggapan shohib, karena sudah banyak yang merasa dirugikan tetapi kebanyakan mereka &#8220;takut&#8221; atas keberanian &#8220;jihad&#8221; shohib !<br />
9. &#8220;Corong&#8221; itu shohib, lebih cenderung sebagai &#8220;Penumuman Munafiqin&#8221;, karena lebih cenderung merasa lebih beriman dengan berlindung dibalik &#8220;syi&#8217;ar&#8221;, kalau &#8220;shohib&#8221; terpaksa harus menggunakan corong kenapa tidak mencontoh dengan suara corong yang ada di &#8220;Masjidil Haram&#8221; dan &#8220;Masjid Nabawi&#8221; yang sangat terdengar merdu dan tidak menyakitkan telinga ? Sudah pasti &#8220;duit&#8221; shohib harus &#8220;tebal&#8221; untuk bisa &#8220;syiar&#8221; dengan baik, bukan dengan modal tipis malah ngatain orang lain kurang beriman dari pada shohib!!!</p>
<p>Nah ini saya cukupkan dengan 9 (songo), semoga shohib yang setuju bercorong ria bisa mempelajari semangat dan cara para wali sanga untuk mendekati umat dengan lemah lembut, bukan dengan gaya penjajah. Karena hanya dengan hati yang baik iman bisa bermanfaat buat orang lain dan diri kita. Maaf bila ada kata-kata yang menyakitkan/salah.</p>
<p><a href="http://sholatmusafir.blogspot.com" rel="nofollow">http://sholatmusafir.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yayat mulyatna</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-397</link>
		<dc:creator>yayat mulyatna</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 07:25:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-397</guid>
		<description>Al Quran itu adalah manual book
untuk hidup dengan cara Islam, bukan hanya sekumpulan puisi atau syair yang harus di-lagu-kan dengan indah belaka, apalagi sekumpulan mantera atau jampi seperti pengusir setan dll. Jadi janganlah mengedepankan pe-lagu-an ayat2 tersebut tetapi mengesampingkan makna, perintah, larangan yang terkandung di lamanya, yang harus dilakoni sehari2. ironis kan, kita me-lagu-kan ayat2 tersebut dengan indah, dan makna yang terkandung juga indah, tetapi tidak pada waktu yang tepat, apalagi sampe menyiksa atau ganggu sesama. bagaimanapun, berpuasa bukan untuk menyiksa diri, karena itu berdosa kita gak buka puasa pada waktunya. Tubuh punya hak untuk beristirahat, jangan menzalimi tubuh sendiri, apalagi tubuh orang lain. Jangan samaratakan kemampuan fisik setiap orang, belum tentu semua orang tahan gak istirahat atau cuma 2 jam tidur sehari semalam selama sebulan. Belum lagi kalo ada tetangga yang sakit, memiliki bayi, dll. Ini baru asumsi sesama muslim, bagaimana yang non-muslim?
Jadi mana yang mau kita pilih, jadi muslim sejati yang menjaga tenggang rasa, atau islam egois yang memaksa semua orang mengikuti mau kita dengan dalih syi&#039;ar?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Al Quran itu adalah manual book<br />
untuk hidup dengan cara Islam, bukan hanya sekumpulan puisi atau syair yang harus di-lagu-kan dengan indah belaka, apalagi sekumpulan mantera atau jampi seperti pengusir setan dll. Jadi janganlah mengedepankan pe-lagu-an ayat2 tersebut tetapi mengesampingkan makna, perintah, larangan yang terkandung di lamanya, yang harus dilakoni sehari2. ironis kan, kita me-lagu-kan ayat2 tersebut dengan indah, dan makna yang terkandung juga indah, tetapi tidak pada waktu yang tepat, apalagi sampe menyiksa atau ganggu sesama. bagaimanapun, berpuasa bukan untuk menyiksa diri, karena itu berdosa kita gak buka puasa pada waktunya. Tubuh punya hak untuk beristirahat, jangan menzalimi tubuh sendiri, apalagi tubuh orang lain. Jangan samaratakan kemampuan fisik setiap orang, belum tentu semua orang tahan gak istirahat atau cuma 2 jam tidur sehari semalam selama sebulan. Belum lagi kalo ada tetangga yang sakit, memiliki bayi, dll. Ini baru asumsi sesama muslim, bagaimana yang non-muslim?<br />
Jadi mana yang mau kita pilih, jadi muslim sejati yang menjaga tenggang rasa, atau islam egois yang memaksa semua orang mengikuti mau kita dengan dalih syi&#8217;ar?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mahdi Djamalullail</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-292</link>
		<dc:creator>Mahdi Djamalullail</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 11:43:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-292</guid>
		<description>Saya setuju dengan kerisauan bensohib,
Sepertinya perlu ada yang menjelaskan makna ayat:
Ud&#039;u rabbakum tadharru&#039;an wa khufyah innahu la yuhibbul mu&#039;tadin (Al-A&#039;raf: 55)
Berdo&#039;alah kepada Tuhanmu dengan kerendahan hati dan suara yang lirih, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..

Kalau gak salah, dulu ada sahabat Nabi yang teriak-teriak berdoa menyeru nama Allah, Nabi melarangnya. Terus keadaan ini jadi asbabunnuzul (sebab diturunkan) ayat ini. sekali lagi Kalau saya gak salah..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju dengan kerisauan bensohib,<br />
Sepertinya perlu ada yang menjelaskan makna ayat:<br />
Ud&#8217;u rabbakum tadharru&#8217;an wa khufyah innahu la yuhibbul mu&#8217;tadin (Al-A&#8217;raf: 55)<br />
Berdo&#8217;alah kepada Tuhanmu dengan kerendahan hati dan suara yang lirih, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..</p>
<p>Kalau gak salah, dulu ada sahabat Nabi yang teriak-teriak berdoa menyeru nama Allah, Nabi melarangnya. Terus keadaan ini jadi asbabunnuzul (sebab diturunkan) ayat ini. sekali lagi Kalau saya gak salah..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: savic</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-189</link>
		<dc:creator>savic</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 05:54:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-189</guid>
		<description>muadzdzin = orang yang di idzinkan
klo sudah benar2 di idzinkan oleh Allah untuk beradzan, maka pendapat dari bensohib ini g akan keluar.... klo cuma merasa di idzinkan ya gitu deh...
adzan seharusnya mengorek telinga orang2 yang mendengarnya dari kotoran2. korekan2 mensucikan ini hanya bisa keluar dari seorang muadzin yang sesungguhnya. contohnya ya seperti yang di dengan WS rendra di new york itu... ada buktinya gitu loh...

kost ana di jogja deket mesjid, tapi adzan nya bisa ana kategorikan sebagai &quot;sedikit&quot; mengganggu.
mbok ya yang adzan itu dipilih yang suaranya merdu dan fasih gitu looo....
tapi ya di sisi lain ga masalah, lha dari pada g ada yang adzan?
tapi ana akui juga kadang ada yang suaranya merdu ikutan adzan, cuma lebih sering engga nya... sayang...

nah... serba salah nya... di indonesia terlalu banyak masjid, akhirnya pengelolaan nya jadi amburadul. yang kotor lah, korupsi lah... apa lah...

mbangun mesjid seperti jadi perlombaan aja seperti bangun real estate. mestinya masjid ga perlu banyak2... jangan terlalu berdekatan dan yang penting jadi sentra spiritualitas ummat di sekitarnya, pendingin suasana ummat di sekitarnya... bukan malah memancing komentar semacam komentar bensohib ini....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>muadzdzin = orang yang di idzinkan<br />
klo sudah benar2 di idzinkan oleh Allah untuk beradzan, maka pendapat dari bensohib ini g akan keluar&#8230;. klo cuma merasa di idzinkan ya gitu deh&#8230;<br />
adzan seharusnya mengorek telinga orang2 yang mendengarnya dari kotoran2. korekan2 mensucikan ini hanya bisa keluar dari seorang muadzin yang sesungguhnya. contohnya ya seperti yang di dengan WS rendra di new york itu&#8230; ada buktinya gitu loh&#8230;</p>
<p>kost ana di jogja deket mesjid, tapi adzan nya bisa ana kategorikan sebagai &#8220;sedikit&#8221; mengganggu.<br />
mbok ya yang adzan itu dipilih yang suaranya merdu dan fasih gitu looo&#8230;.<br />
tapi ya di sisi lain ga masalah, lha dari pada g ada yang adzan?<br />
tapi ana akui juga kadang ada yang suaranya merdu ikutan adzan, cuma lebih sering engga nya&#8230; sayang&#8230;</p>
<p>nah&#8230; serba salah nya&#8230; di indonesia terlalu banyak masjid, akhirnya pengelolaan nya jadi amburadul. yang kotor lah, korupsi lah&#8230; apa lah&#8230;</p>
<p>mbangun mesjid seperti jadi perlombaan aja seperti bangun real estate. mestinya masjid ga perlu banyak2&#8230; jangan terlalu berdekatan dan yang penting jadi sentra spiritualitas ummat di sekitarnya, pendingin suasana ummat di sekitarnya&#8230; bukan malah memancing komentar semacam komentar bensohib ini&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pig Dog Toad Haraam</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-177</link>
		<dc:creator>Pig Dog Toad Haraam</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 23:42:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-177</guid>
		<description>Hehehe...
&quot;INI LHO AKU, SEDANG SEMBAHYANG, LU SEMUA PADA DENEGRIN YACH!!

;)))</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe&#8230;<br />
&#8220;INI LHO AKU, SEDANG SEMBAHYANG, LU SEMUA PADA DENEGRIN YACH!!</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ))</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bensohib</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-122</link>
		<dc:creator>bensohib</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 09:05:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-122</guid>
		<description>Saya setuju dik, ini buat sampeyan bukan masalah besar. Tapi coba adik tanya sama makelar-makelar profesional (makelar sekelas Alex Sibaba alias Ali So&#039;od); rumah pinggir masjid bagaimana? Pasti adik akan terkejut dan bilang, &quot;Abooo, begitu dik, ya?&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju dik, ini buat sampeyan bukan masalah besar. Tapi coba adik tanya sama makelar-makelar profesional (makelar sekelas Alex Sibaba alias Ali So&#8217;od); rumah pinggir masjid bagaimana? Pasti adik akan terkejut dan bilang, &#8220;Abooo, begitu dik, ya?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: segomegono</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-121</link>
		<dc:creator>segomegono</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 08:54:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-121</guid>
		<description>memang ternyata bukan masalah yang besar benar, lha tak iyaa dik</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>memang ternyata bukan masalah yang besar benar, lha tak iyaa dik</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sagaf Hasny</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-120</link>
		<dc:creator>Sagaf Hasny</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 03:51:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-120</guid>
		<description>If then, i will say Alhamdulillah ... Barakallahu fik</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>If then, i will say Alhamdulillah &#8230; Barakallahu fik</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bensohib</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-118</link>
		<dc:creator>bensohib</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jul 2007 11:42:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bensohib.wordpress.com/2007/07/01/masjid-al-heboh/#comment-118</guid>
		<description>Saya tidak merasa dipojokkan karena saya tahu bahwa ukuran pantas tidak pantas, beretika tidak beretika, ugal-ugalan tidak ugal-ugalan, dan teriak-teriak tidak teriak-teriak itu bagi setiap orang berbeda. Mungkin yang bagi saya terlihat ugal-ugalan, bagi Anda biasa saja. Bagi saya terdengar teriak-teriak, bagi Anda terdengar wajar saja. Begitulah, setiap kepala mempunyai persepsi yg berbeda-beda. Tapi itu sah-sah saja. Sepanjang tidak menggangu tetangga......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak merasa dipojokkan karena saya tahu bahwa ukuran pantas tidak pantas, beretika tidak beretika, ugal-ugalan tidak ugal-ugalan, dan teriak-teriak tidak teriak-teriak itu bagi setiap orang berbeda. Mungkin yang bagi saya terlihat ugal-ugalan, bagi Anda biasa saja. Bagi saya terdengar teriak-teriak, bagi Anda terdengar wajar saja. Begitulah, setiap kepala mempunyai persepsi yg berbeda-beda. Tapi itu sah-sah saja. Sepanjang tidak menggangu tetangga&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
