MAKLUMAT

Bercerita saya bercerita. Bercerita kepada hadirin semua. Ini cerita orang muda, salam kenal dari saya. Kepada yang tua-tua, segala takzim untuk Anda. Kalau saya salah berkata, besar maaf saya minta. Jika nanti ada yang keliru, jangan hadirin menilai terburu. Saya bercerita sejak dahulu, hingga kini belum jumpa guru. Cukuplah ini kiranya, menjadi maklum hadirin semua. (Dinukil dari cerita sangat pendek Bercerita karya Iswadi Pratama) 

Responses

  1. Ada kerusi ada meja,

    Itulah tempat membasuh kaki;

    Ada budi ada bahasa,

    Itulah tempat ditaruh hati.

    Asam kandis mari dihiris,

    Manis sekali rasa isinya;

    Dilihat manis dipandang manis,

    Lebih manis hati budinya.

  2. wah yang ini Melayu abis…

  3. hoo…, guru, ya?

    di dunia ini guru itu tidak ada!
    yang ada itu guuuarong.

    itu, lho.
    nyang hobinya ngembat duit muridnya yang cuman seiprit. lalu ngangkang cekakakan sampai perutnya bengkak di atas ketulusan dan kejujuran para thalib!

  4. jaka sembung naik ojek, gak nyambung jek!

    ben, komentarin donk, puisi gw!!!

  5. Ok,gw komentari Dy: pasti kang ojegnya namanya Mugni, nongkrongnya deket al-hawi…

  6. eh, mas ben, kenalan dong.
    aku juga latihan bikin novel di Rumah Dunia, Serang Banten sama Gola Gong. Lagi ‘mondok’, nih. Boleh nggak? Kan lumayan, kali aja dapet berkah dari nyang pernah bikin novel.

    Hehe…

  7. jadi, mshdq ini sebenarnya siapa? soalnya setahu ane, Golagong itu itu gudangnya novel. Dan beliau itu kalau gk salah tuan rumah dari ode kampung/kumpulan sastrawan se Indonesa!

  8. “TOEJOEHBELASAN”
    Setiap kali kalender berhampiran dengan bulan ke delapan,Agustus, kita selalu saja melihat berbagai kesibukan dari bangsa ini. Tidak ada diskriminasi di sini. Dari mulai ibu2 arisan, bapak-bapak majelis taklim, sampai para pemulung di bawah jembatan, semua bergegas mengibarkan bendera merah putih. Dari mulai yang ukuran mini seharga dua ribu perak yang dijual di jalanan, ditempel diberbagai merek mobil. Sampai yang ukuran jumbo, atau sekedar gelas plastik bekas airminum yang diwarnai merah putih.

    Tak peduli apakah itu sebuah Jaguar, sebuah angkot, ataupun sebuah gang di sebuah RT. Mereka bersuka cita, mereka rame -rame memasang bendera, saling berebut untuk mengekspresikan; “kami merdeka”

    Tentu tidak terkecuali kita, ya kita. Termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini.
    Tapi apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?

    Dan setiap kali orang meneriakkan ” merdeka”, secara sembunyi-sembunyi bawah sadar kita mulai menjejerkan potongan gambar, persepsi dari kemerdekaan; Sepatu lars yang kotor, setelan warna khakhi yang lusuh tak terjamah air, topi miring dengan pin kecil merah putih atau gambar garuda. Pasti, tak ketinggalan bambu runcing atau satu dua memegang senjata laras panjang tanpa magazine. Lori-lori yang mengangkut serdadu pulang dari kancah peperangan. Grafiti “Merdeka Ataw Mati” “Sekali Meredeka Tetap Merdeka” “Berjoeang Sampai Titik Darah Penghabisan”, dan sebagainya. Dan untuk lebih memberi warna kesyahduan dari jejeran gambar itu, berdengung di lubang telinga kita OST; ‘Sepasang Mata Bola’, ‘Selendang Sutera’ dan ‘Tabur Bunga’ dari Alm.Syed Husin Mutahar sang pembawa bendera pusaka.

    Memang, sekarang ini Undang-Undang mengatakan bahwa; Kemerdekaan adalah hak setiap warga negara.

    Tapi tahukah tuan, apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?

    MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA !!!!

    Kami Oetjapken Selamat Oelang Tahoen Kemerdekaan Toejoeh Belas Agoestoes Seriboe Sembilan Ratoes Empat Poeloeh Lima.
    Tabiek.

  9. Telukbetung*)

    Kaukah samsara di keabadian
    senyum pahit nenek moyang silam
    ;tentang luka kaki para anak
    luntur gincu para perawan dan air mata
    lelaki yang kehilangan taman hati
    aku di sini
    masih sehijau pepohonan bukitmu
    tak tahan reguk ranum kopi
    racikan Mak dari tangan sangat letih
    dalam samsara
    tak terpikir bersijingkat.

    *) Salah satu kota di Lampung

    Lampung, Agustus 2007

    Sama Luka

    Perempuan itu
    betapa suka di bawah rembulan.
    Ia bebas bercerita
    ;kemarau panjang telah dilupakannya
    tertelan oleh lelaki di waktu menjadikannya luka.
    Karena cahaya rembulan ia tak pernah sadar
    bayangan lelaki itu mendekat ke arahnya
    untuk membagi separuh luka dari luka
    yang telah diberikannya
    Jakarta, Agustus 2007

    Awal dan Akhir

    kau awali ceritamu dengan kesedihan
    :tentang kemarau panjang sampai penghujung usia
    kau tengahi ceritamu dengan kepedihan
    :tentang para lelayu yang sampai kini belum terkuburkan
    kau akhiri ceritamu dengan kengerian
    :tentang makam-makam yang menjadi rata diselimuti aspal

    Sementara aku yang mendengarkanmu
    :sunyi meratap langit mencari kata-kataNya
    Jakarta, Desember 2006

    Waktu
    Betapa mengerti waktu itu kekasih
    dengan kaki letih tangan gemetar
    segera kau peluk aku sambil berkata-kata.
    Wajahmu semakin sayu petanda
    agar segera kita menuju ke kampung Matraman
    dan kampung Melayu untuk mencari malam
    yang sampai saat ini belum kita temukan.

    Kecuali, jalan itu…
    masih saja sering kudengar isak tangis
    para lelaki dan perempuan
    karena gerobak-gerobaknya di bongkar paksa
    Jakarta, Agustus 2007

    Mengenalmu

    mengenalmu
    adalah ingatan pada kota yang pernah menikam aku
    di antara pembual di musimnya
    dan yang belum aku sadari
    :kini aku di antaranya…
    Lampung, Agustus 2007

    Tentang malam

    tentang malam itu
    kau berkata:
    adalah malam tertatih langkah para peminta
    pada rapuh tongkat
    sambil menghitung kaki penuh bilur
    bermahkota baju kumal
    sobek bertambal jahitan kain lusuh
    tentang malam yang baginya
    adalah istirahat sementara
    adalah kubur sementara
    sekadar pejamkan mata dari perih dan letih
    menanti pagi lewat angan yang kusam
    menjemput luka
    menantiNya
    Lampung, Juli 2007

  10. Wah, kerna sudah lama tak ikut ngeliat blog nya Ben ini, saya jadi suprise kalau di sini sudah banyak puisinya. Saya sangat ok kalau di kolom MAKLUMAT ini dijadikan saja kolom puisi, jangan tulisan lain. Biar sedikit ada warna lain, selain yang kontroversial -dan nyengit.Biar tidak nguwalati Gittu loch

  11. wah mbuh ra ruh ah…

    ini puisi bukan?

  12. (ADA KESALAHAN TEHNIS DENGAN COMMENT INI, JADI TOLONG DI KOREKSI.)
    Pertanyaan mas savic ini rasanya jadi menggelitik juga.Ijinkanlah saya menimpalinya,begini;
    Mas savic yang orang jawa, pasti dari yogyakarta.Karena kalau dari tempat lain, paling ya semarang atawa ya solo.Karena gaya yang begitu itu, tidak bisa dari tempat lain.
    Dan, apakah itu puisi ? tergantung situasi dan kondisi kapan dan dengan siapa, kata itu di ucapkan.
    Kalau saja itu disampaikan kepada pacar, ya pasti jadi puisi. Kalau disampaikan kepada orang tua kita, itu namanya ya marah marah.Kalau itu disampaikan kepada temen laki kita, itu namanya mangkel. Iya toh.
    Saya mencoba untuk memaksakan masuk dalam genre haiku- sajak2 pendek Jepang- tapi kok nggak pas kayaknya.
    Justru yang muncul di benak saya adalah sebuah kenangan ketika saya di yogya beberapa tahun silam.Ketika itu saya mencoba naik becak yang memang sudah lama saya tidak pernah naik lagi. Saya mencoba muter-muter beca’an, sambil kadang kadang bercengkrama sedikit dengan bapak tukang becaknya. Saya kemudian tahu bahwa namanya adalah solikun. Saya yakin bahwa yang dimaksud adalah SOLIKHUN, yang artinya kalau tidak salah adalah orang yang salih. Becak terus dikayuh, nafasnya mulai melenguh. Tapi ia tetep bercerita, ngalor ngidul walau sambil terbata bata. Sampai pas pada sebuah tanjakan, Solikun turun, dia bergumam walaupun lirih saya masih bisa menangkapnya dengan baik; WOLO WOLO KUATO, katanya. Saya tidak tahu pasti saat itu, adakah arti dari gumamnya itu. Apakah hanya sekedar just murmuring,untuk melupakan kecapaiannya.Wallahualam.
    Benak ini terus berputar, dihotelpun saya susah untuk istirahat. Sampai saat saya selesai sholat Isya. Ketika berdzikir dan sampai pada; La Khaula Walaquata, saya terhenti sejenak. O ini rupanya gumam Solikhun tadi. Dia lagi berdzikir . Walau dengan dialek Yogya yang sudah sangat jauh dari asal kata aslinya. Adakah ini tetap dzikir di mata Tuhan ?
    Pertanyaan ini , menurut saya, hampir sama dengan punya mas savic. Adakah itu puisi ?
    Wallahualam Bissawab.
    Walafuminkum.

  13. wah segomegono ini orangnya mesti njlimet… bcanda loh…
    eh saya juga dari daerah d mana segomegono ada lho… hehehe salam kenal..

  14. Asal mas Savic tahu, segomegono ini seorang sastrawan besar yg misterius, ia sepertinya terus-menerus menyembunyikan diri di dalam mantelnya Nicolai Gogol. Betul begitu, wahai Segomegono–ah bagaimana aku harus memanggilmu–?…….

  15. kalo misterius kok mas ben tau dia itu sastrawan besar? hayoohhh…. hihihi

  16. Mas Ben salam kenal ya,
    mas kapan novel edisi keduanya muncul lagi? dari penggemarmu di turunan al-hawi, ternyata masuk di buku jg mas ben.trim’s


Leave a response

Your response: