Bercerita saya bercerita. Bercerita kepada hadirin semua. Ini cerita orang muda, salam kenal dari saya. Kepada yang tua-tua, segala takzim untuk Anda. Kalau saya salah berkata, besar maaf saya minta. Jika nanti ada yang keliru, jangan hadirin menilai terburu. Saya bercerita sejak dahulu, hingga kini belum jumpa guru. Cukuplah ini kiranya, menjadi maklum hadirin semua. (Dinukil dari cerita sangat pendek Bercerita karya Iswadi Pratama)
Ada kerusi ada meja,
Itulah tempat membasuh kaki;
Ada budi ada bahasa,
Itulah tempat ditaruh hati.
Asam kandis mari dihiris,
Manis sekali rasa isinya;
Dilihat manis dipandang manis,
Lebih manis hati budinya.
By: musadiqmarhaban on June 30, 2007
at 7:34 pm
wah yang ini Melayu abis…
By: bensohib on July 1, 2007
at 9:15 am
hoo…, guru, ya?
di dunia ini guru itu tidak ada!
yang ada itu guuuarong.
itu, lho.
nyang hobinya ngembat duit muridnya yang cuman seiprit. lalu ngangkang cekakakan sampai perutnya bengkak di atas ketulusan dan kejujuran para thalib!
By: mshdq on July 3, 2007
at 11:09 pm
jaka sembung naik ojek, gak nyambung jek!
ben, komentarin donk, puisi gw!!!
By: mehdyzidane on July 4, 2007
at 7:34 am
Ok,gw komentari Dy: pasti kang ojegnya namanya Mugni, nongkrongnya deket al-hawi…
By: bensohib on July 5, 2007
at 1:47 pm
eh, mas ben, kenalan dong.
aku juga latihan bikin novel di Rumah Dunia, Serang Banten sama Gola Gong. Lagi ‘mondok’, nih. Boleh nggak? Kan lumayan, kali aja dapet berkah dari nyang pernah bikin novel.
Hehe…
By: sadiq on July 9, 2007
at 12:24 pm
jadi, mshdq ini sebenarnya siapa? soalnya setahu ane, Golagong itu itu gudangnya novel. Dan beliau itu kalau gk salah tuan rumah dari ode kampung/kumpulan sastrawan se Indonesa!
By: bensohib on July 9, 2007
at 9:20 pm
“TOEJOEHBELASAN”
Setiap kali kalender berhampiran dengan bulan ke delapan,Agustus, kita selalu saja melihat berbagai kesibukan dari bangsa ini. Tidak ada diskriminasi di sini. Dari mulai ibu2 arisan, bapak-bapak majelis taklim, sampai para pemulung di bawah jembatan, semua bergegas mengibarkan bendera merah putih. Dari mulai yang ukuran mini seharga dua ribu perak yang dijual di jalanan, ditempel diberbagai merek mobil. Sampai yang ukuran jumbo, atau sekedar gelas plastik bekas airminum yang diwarnai merah putih.
Tak peduli apakah itu sebuah Jaguar, sebuah angkot, ataupun sebuah gang di sebuah RT. Mereka bersuka cita, mereka rame -rame memasang bendera, saling berebut untuk mengekspresikan; “kami merdeka”
Tentu tidak terkecuali kita, ya kita. Termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini.
Tapi apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?
Dan setiap kali orang meneriakkan ” merdeka”, secara sembunyi-sembunyi bawah sadar kita mulai menjejerkan potongan gambar, persepsi dari kemerdekaan; Sepatu lars yang kotor, setelan warna khakhi yang lusuh tak terjamah air, topi miring dengan pin kecil merah putih atau gambar garuda. Pasti, tak ketinggalan bambu runcing atau satu dua memegang senjata laras panjang tanpa magazine. Lori-lori yang mengangkut serdadu pulang dari kancah peperangan. Grafiti “Merdeka Ataw Mati” “Sekali Meredeka Tetap Merdeka” “Berjoeang Sampai Titik Darah Penghabisan”, dan sebagainya. Dan untuk lebih memberi warna kesyahduan dari jejeran gambar itu, berdengung di lubang telinga kita OST; ‘Sepasang Mata Bola’, ‘Selendang Sutera’ dan ‘Tabur Bunga’ dari Alm.Syed Husin Mutahar sang pembawa bendera pusaka.
Memang, sekarang ini Undang-Undang mengatakan bahwa; Kemerdekaan adalah hak setiap warga negara.
Tapi tahukah tuan, apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?
MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA !!!!
Kami Oetjapken Selamat Oelang Tahoen Kemerdekaan Toejoeh Belas Agoestoes Seriboe Sembilan Ratoes Empat Poeloeh Lima.
Tabiek.
By: segomegono on August 14, 2007
at 9:23 am
Telukbetung*)
Kaukah samsara di keabadian
senyum pahit nenek moyang silam
;tentang luka kaki para anak
luntur gincu para perawan dan air mata
lelaki yang kehilangan taman hati
aku di sini
masih sehijau pepohonan bukitmu
tak tahan reguk ranum kopi
racikan Mak dari tangan sangat letih
dalam samsara
tak terpikir bersijingkat.
*) Salah satu kota di Lampung
Lampung, Agustus 2007
Sama Luka
Perempuan itu
betapa suka di bawah rembulan.
Ia bebas bercerita
;kemarau panjang telah dilupakannya
tertelan oleh lelaki di waktu menjadikannya luka.
Karena cahaya rembulan ia tak pernah sadar
bayangan lelaki itu mendekat ke arahnya
untuk membagi separuh luka dari luka
yang telah diberikannya
Jakarta, Agustus 2007
Awal dan Akhir
kau awali ceritamu dengan kesedihan
:tentang kemarau panjang sampai penghujung usia
kau tengahi ceritamu dengan kepedihan
:tentang para lelayu yang sampai kini belum terkuburkan
kau akhiri ceritamu dengan kengerian
:tentang makam-makam yang menjadi rata diselimuti aspal
Sementara aku yang mendengarkanmu
:sunyi meratap langit mencari kata-kataNya
Jakarta, Desember 2006
Waktu
Betapa mengerti waktu itu kekasih
dengan kaki letih tangan gemetar
segera kau peluk aku sambil berkata-kata.
Wajahmu semakin sayu petanda
agar segera kita menuju ke kampung Matraman
dan kampung Melayu untuk mencari malam
yang sampai saat ini belum kita temukan.
Kecuali, jalan itu…
masih saja sering kudengar isak tangis
para lelaki dan perempuan
karena gerobak-gerobaknya di bongkar paksa
Jakarta, Agustus 2007
Mengenalmu
mengenalmu
adalah ingatan pada kota yang pernah menikam aku
di antara pembual di musimnya
dan yang belum aku sadari
:kini aku di antaranya…
Lampung, Agustus 2007
Tentang malam
tentang malam itu
kau berkata:
adalah malam tertatih langkah para peminta
pada rapuh tongkat
sambil menghitung kaki penuh bilur
bermahkota baju kumal
sobek bertambal jahitan kain lusuh
tentang malam yang baginya
adalah istirahat sementara
adalah kubur sementara
sekadar pejamkan mata dari perih dan letih
menanti pagi lewat angan yang kusam
menjemput luka
menantiNya
Lampung, Juli 2007
By: F. Moses on September 2, 2007
at 7:53 pm
Wah, kerna sudah lama tak ikut ngeliat blog nya Ben ini, saya jadi suprise kalau di sini sudah banyak puisinya. Saya sangat ok kalau di kolom MAKLUMAT ini dijadikan saja kolom puisi, jangan tulisan lain. Biar sedikit ada warna lain, selain yang kontroversial -dan nyengit.Biar tidak nguwalati Gittu loch
By: segomegono on October 14, 2007
at 9:40 am
wah mbuh ra ruh ah…
ini puisi bukan?
By: savic on October 22, 2007
at 7:17 am
(ADA KESALAHAN TEHNIS DENGAN COMMENT INI, JADI TOLONG DI KOREKSI.)
Pertanyaan mas savic ini rasanya jadi menggelitik juga.Ijinkanlah saya menimpalinya,begini;
Mas savic yang orang jawa, pasti dari yogyakarta.Karena kalau dari tempat lain, paling ya semarang atawa ya solo.Karena gaya yang begitu itu, tidak bisa dari tempat lain.
Dan, apakah itu puisi ? tergantung situasi dan kondisi kapan dan dengan siapa, kata itu di ucapkan.
Kalau saja itu disampaikan kepada pacar, ya pasti jadi puisi. Kalau disampaikan kepada orang tua kita, itu namanya ya marah marah.Kalau itu disampaikan kepada temen laki kita, itu namanya mangkel. Iya toh.
Saya mencoba untuk memaksakan masuk dalam genre haiku- sajak2 pendek Jepang- tapi kok nggak pas kayaknya.
Justru yang muncul di benak saya adalah sebuah kenangan ketika saya di yogya beberapa tahun silam.Ketika itu saya mencoba naik becak yang memang sudah lama saya tidak pernah naik lagi. Saya mencoba muter-muter beca’an, sambil kadang kadang bercengkrama sedikit dengan bapak tukang becaknya. Saya kemudian tahu bahwa namanya adalah solikun. Saya yakin bahwa yang dimaksud adalah SOLIKHUN, yang artinya kalau tidak salah adalah orang yang salih. Becak terus dikayuh, nafasnya mulai melenguh. Tapi ia tetep bercerita, ngalor ngidul walau sambil terbata bata. Sampai pas pada sebuah tanjakan, Solikun turun, dia bergumam walaupun lirih saya masih bisa menangkapnya dengan baik; WOLO WOLO KUATO, katanya. Saya tidak tahu pasti saat itu, adakah arti dari gumamnya itu. Apakah hanya sekedar just murmuring,untuk melupakan kecapaiannya.Wallahualam.
Benak ini terus berputar, dihotelpun saya susah untuk istirahat. Sampai saat saya selesai sholat Isya. Ketika berdzikir dan sampai pada; La Khaula Walaquata, saya terhenti sejenak. O ini rupanya gumam Solikhun tadi. Dia lagi berdzikir . Walau dengan dialek Yogya yang sudah sangat jauh dari asal kata aslinya. Adakah ini tetap dzikir di mata Tuhan ?
Pertanyaan ini , menurut saya, hampir sama dengan punya mas savic. Adakah itu puisi ?
Wallahualam Bissawab.
Walafuminkum.
By: segomegono on October 24, 2007
at 10:11 am
wah segomegono ini orangnya mesti njlimet… bcanda loh…
eh saya juga dari daerah d mana segomegono ada lho… hehehe salam kenal..
By: savic on October 29, 2007
at 4:21 pm
Asal mas Savic tahu, segomegono ini seorang sastrawan besar yg misterius, ia sepertinya terus-menerus menyembunyikan diri di dalam mantelnya Nicolai Gogol. Betul begitu, wahai Segomegono–ah bagaimana aku harus memanggilmu–?…….
By: bensohib on October 31, 2007
at 7:19 am
kalo misterius kok mas ben tau dia itu sastrawan besar? hayoohhh…. hihihi
By: savic on November 5, 2007
at 5:53 am
Mas Ben salam kenal ya,
mas kapan novel edisi keduanya muncul lagi? dari penggemarmu di turunan al-hawi, ternyata masuk di buku jg mas ben.trim’s
By: Abu zahra on November 13, 2007
at 4:38 pm