<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: MAKLUMAT</title>
	<atom:link href="http://bensohib.wordpress.com/about/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bensohib.wordpress.com</link>
	<description>Menoelis Atawa Tiada Menoelis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Mar 2009 05:12:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Abu zahra</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-214</link>
		<dc:creator>Abu zahra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 16:38:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-214</guid>
		<description>Mas Ben salam kenal ya,
mas kapan novel edisi keduanya muncul lagi? dari penggemarmu di turunan al-hawi, ternyata masuk di buku jg mas ben.trim&#039;s</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Ben salam kenal ya,<br />
mas kapan novel edisi keduanya muncul lagi? dari penggemarmu di turunan al-hawi, ternyata masuk di buku jg mas ben.trim&#8217;s</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: savic</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-207</link>
		<dc:creator>savic</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 05:53:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-207</guid>
		<description>kalo misterius kok mas ben tau dia itu sastrawan besar? hayoohhh.... hihihi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo misterius kok mas ben tau dia itu sastrawan besar? hayoohhh&#8230;. hihihi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bensohib</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-204</link>
		<dc:creator>bensohib</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 07:19:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-204</guid>
		<description>Asal mas Savic tahu, segomegono ini seorang sastrawan besar yg misterius, ia sepertinya terus-menerus menyembunyikan diri di dalam mantelnya Nicolai Gogol. Betul begitu, wahai Segomegono--ah bagaimana aku harus memanggilmu--?.......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Asal mas Savic tahu, segomegono ini seorang sastrawan besar yg misterius, ia sepertinya terus-menerus menyembunyikan diri di dalam mantelnya Nicolai Gogol. Betul begitu, wahai Segomegono&#8211;ah bagaimana aku harus memanggilmu&#8211;?&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: savic</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-202</link>
		<dc:creator>savic</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 16:21:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-202</guid>
		<description>wah segomegono ini orangnya mesti njlimet... bcanda loh...
eh saya juga dari daerah d mana segomegono ada lho... hehehe salam kenal..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah segomegono ini orangnya mesti njlimet&#8230; bcanda loh&#8230;<br />
eh saya juga dari daerah d mana segomegono ada lho&#8230; hehehe salam kenal..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: segomegono</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-199</link>
		<dc:creator>segomegono</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 10:11:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-199</guid>
		<description>(ADA KESALAHAN TEHNIS DENGAN COMMENT INI, JADI TOLONG DI KOREKSI.)
Pertanyaan mas savic ini rasanya jadi menggelitik juga.Ijinkanlah saya menimpalinya,begini;
Mas savic yang orang jawa, pasti dari yogyakarta.Karena kalau dari tempat lain, paling ya semarang atawa ya solo.Karena gaya yang begitu itu, tidak bisa dari tempat lain.
Dan, apakah itu puisi ? tergantung situasi dan kondisi kapan dan dengan siapa, kata itu di ucapkan.
Kalau saja itu disampaikan kepada pacar, ya pasti jadi puisi. Kalau disampaikan kepada orang tua kita, itu namanya ya marah marah.Kalau itu disampaikan kepada temen laki kita, itu namanya mangkel. Iya toh.
Saya mencoba untuk memaksakan masuk dalam genre haiku- sajak2 pendek Jepang- tapi kok nggak pas kayaknya.
Justru yang muncul di benak saya adalah sebuah kenangan ketika saya di yogya beberapa tahun silam.Ketika itu saya mencoba naik becak yang memang sudah lama saya tidak pernah naik lagi. Saya mencoba muter-muter beca&#039;an, sambil kadang kadang bercengkrama sedikit dengan bapak tukang becaknya. Saya kemudian tahu bahwa namanya adalah solikun. Saya yakin bahwa yang dimaksud adalah SOLIKHUN, yang artinya kalau tidak salah adalah orang yang salih. Becak terus dikayuh, nafasnya mulai melenguh. Tapi ia tetep bercerita, ngalor ngidul walau sambil terbata bata. Sampai pas pada sebuah tanjakan, Solikun turun, dia bergumam walaupun lirih saya masih bisa menangkapnya dengan baik; WOLO WOLO KUATO, katanya. Saya tidak tahu pasti saat itu, adakah arti dari gumamnya itu. Apakah hanya sekedar just murmuring,untuk melupakan kecapaiannya.Wallahualam.
Benak ini terus berputar,  dihotelpun saya susah untuk istirahat. Sampai saat saya selesai sholat Isya. Ketika berdzikir dan sampai pada; La Khaula Walaquata, saya terhenti sejenak. O ini rupanya gumam Solikhun tadi. Dia lagi berdzikir . Walau dengan dialek Yogya yang sudah sangat jauh dari asal kata aslinya. Adakah ini tetap dzikir di mata Tuhan ?
Pertanyaan ini , menurut saya, hampir sama dengan punya mas savic. Adakah itu puisi ?
Wallahualam Bissawab.
Walafuminkum.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(ADA KESALAHAN TEHNIS DENGAN COMMENT INI, JADI TOLONG DI KOREKSI.)<br />
Pertanyaan mas savic ini rasanya jadi menggelitik juga.Ijinkanlah saya menimpalinya,begini;<br />
Mas savic yang orang jawa, pasti dari yogyakarta.Karena kalau dari tempat lain, paling ya semarang atawa ya solo.Karena gaya yang begitu itu, tidak bisa dari tempat lain.<br />
Dan, apakah itu puisi ? tergantung situasi dan kondisi kapan dan dengan siapa, kata itu di ucapkan.<br />
Kalau saja itu disampaikan kepada pacar, ya pasti jadi puisi. Kalau disampaikan kepada orang tua kita, itu namanya ya marah marah.Kalau itu disampaikan kepada temen laki kita, itu namanya mangkel. Iya toh.<br />
Saya mencoba untuk memaksakan masuk dalam genre haiku- sajak2 pendek Jepang- tapi kok nggak pas kayaknya.<br />
Justru yang muncul di benak saya adalah sebuah kenangan ketika saya di yogya beberapa tahun silam.Ketika itu saya mencoba naik becak yang memang sudah lama saya tidak pernah naik lagi. Saya mencoba muter-muter beca&#8217;an, sambil kadang kadang bercengkrama sedikit dengan bapak tukang becaknya. Saya kemudian tahu bahwa namanya adalah solikun. Saya yakin bahwa yang dimaksud adalah SOLIKHUN, yang artinya kalau tidak salah adalah orang yang salih. Becak terus dikayuh, nafasnya mulai melenguh. Tapi ia tetep bercerita, ngalor ngidul walau sambil terbata bata. Sampai pas pada sebuah tanjakan, Solikun turun, dia bergumam walaupun lirih saya masih bisa menangkapnya dengan baik; WOLO WOLO KUATO, katanya. Saya tidak tahu pasti saat itu, adakah arti dari gumamnya itu. Apakah hanya sekedar just murmuring,untuk melupakan kecapaiannya.Wallahualam.<br />
Benak ini terus berputar,  dihotelpun saya susah untuk istirahat. Sampai saat saya selesai sholat Isya. Ketika berdzikir dan sampai pada; La Khaula Walaquata, saya terhenti sejenak. O ini rupanya gumam Solikhun tadi. Dia lagi berdzikir . Walau dengan dialek Yogya yang sudah sangat jauh dari asal kata aslinya. Adakah ini tetap dzikir di mata Tuhan ?<br />
Pertanyaan ini , menurut saya, hampir sama dengan punya mas savic. Adakah itu puisi ?<br />
Wallahualam Bissawab.<br />
Walafuminkum.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: savic</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-192</link>
		<dc:creator>savic</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 07:17:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-192</guid>
		<description>wah mbuh ra ruh ah...

ini puisi bukan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah mbuh ra ruh ah&#8230;</p>
<p>ini puisi bukan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: segomegono</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-180</link>
		<dc:creator>segomegono</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 09:40:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-180</guid>
		<description>Wah, kerna sudah lama tak ikut ngeliat blog nya Ben ini, saya jadi suprise kalau di sini sudah banyak puisinya. Saya sangat ok kalau di kolom MAKLUMAT ini dijadikan saja kolom puisi, jangan tulisan  lain. Biar sedikit ada warna lain, selain yang kontroversial -dan nyengit.Biar tidak nguwalati Gittu loch</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, kerna sudah lama tak ikut ngeliat blog nya Ben ini, saya jadi suprise kalau di sini sudah banyak puisinya. Saya sangat ok kalau di kolom MAKLUMAT ini dijadikan saja kolom puisi, jangan tulisan  lain. Biar sedikit ada warna lain, selain yang kontroversial -dan nyengit.Biar tidak nguwalati Gittu loch</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: F. Moses</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-149</link>
		<dc:creator>F. Moses</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Sep 2007 19:53:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-149</guid>
		<description>Telukbetung*)

Kaukah samsara di keabadian
senyum pahit nenek moyang silam
;tentang luka kaki para anak
luntur gincu para perawan dan air mata
lelaki yang kehilangan taman hati
aku di sini
masih sehijau pepohonan bukitmu
tak tahan reguk ranum kopi
racikan Mak dari tangan sangat letih
dalam samsara
tak terpikir bersijingkat.

*) Salah satu kota di Lampung

				Lampung, Agustus 2007

Sama Luka

Perempuan itu
betapa suka di bawah rembulan.
Ia bebas bercerita
;kemarau panjang telah dilupakannya
tertelan oleh lelaki di waktu menjadikannya luka.
Karena cahaya rembulan ia tak pernah sadar
bayangan lelaki itu mendekat ke arahnya
untuk membagi separuh luka dari luka
yang telah diberikannya
				Jakarta, Agustus 2007

Awal dan Akhir

kau awali ceritamu dengan kesedihan
:tentang kemarau panjang sampai penghujung usia
kau tengahi ceritamu dengan kepedihan
:tentang para lelayu yang sampai kini belum terkuburkan
kau akhiri ceritamu dengan kengerian
:tentang makam-makam yang menjadi rata diselimuti aspal

Sementara aku yang mendengarkanmu
:sunyi meratap langit mencari kata-kataNya
				Jakarta, Desember 2006



Waktu
Betapa mengerti waktu itu kekasih
dengan kaki letih tangan gemetar
segera kau peluk aku sambil berkata-kata.
Wajahmu semakin sayu petanda
agar segera kita menuju ke kampung Matraman
dan kampung Melayu untuk mencari malam
yang sampai saat ini belum kita temukan.

Kecuali, jalan itu…
masih saja sering kudengar isak tangis
para lelaki dan perempuan 
karena gerobak-gerobaknya di bongkar paksa 
				Jakarta, Agustus 2007


Mengenalmu 

mengenalmu
adalah ingatan pada kota yang pernah menikam  aku
di antara pembual di musimnya
dan yang belum aku sadari
:kini aku di antaranya…
					Lampung, Agustus 2007


Tentang malam

tentang malam itu
kau berkata:
adalah malam tertatih langkah para peminta
pada rapuh tongkat
sambil menghitung kaki penuh bilur
bermahkota baju kumal
sobek bertambal jahitan kain lusuh
tentang malam yang baginya
adalah istirahat sementara
adalah kubur sementara
sekadar pejamkan mata dari perih dan letih
menanti pagi lewat angan yang kusam
menjemput luka
menantiNya
					Lampung, Juli 2007</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Telukbetung*)</p>
<p>Kaukah samsara di keabadian<br />
senyum pahit nenek moyang silam<br />
;tentang luka kaki para anak<br />
luntur gincu para perawan dan air mata<br />
lelaki yang kehilangan taman hati<br />
aku di sini<br />
masih sehijau pepohonan bukitmu<br />
tak tahan reguk ranum kopi<br />
racikan Mak dari tangan sangat letih<br />
dalam samsara<br />
tak terpikir bersijingkat.</p>
<p>*) Salah satu kota di Lampung</p>
<p>				Lampung, Agustus 2007</p>
<p>Sama Luka</p>
<p>Perempuan itu<br />
betapa suka di bawah rembulan.<br />
Ia bebas bercerita<br />
;kemarau panjang telah dilupakannya<br />
tertelan oleh lelaki di waktu menjadikannya luka.<br />
Karena cahaya rembulan ia tak pernah sadar<br />
bayangan lelaki itu mendekat ke arahnya<br />
untuk membagi separuh luka dari luka<br />
yang telah diberikannya<br />
				Jakarta, Agustus 2007</p>
<p>Awal dan Akhir</p>
<p>kau awali ceritamu dengan kesedihan<br />
:tentang kemarau panjang sampai penghujung usia<br />
kau tengahi ceritamu dengan kepedihan<br />
:tentang para lelayu yang sampai kini belum terkuburkan<br />
kau akhiri ceritamu dengan kengerian<br />
:tentang makam-makam yang menjadi rata diselimuti aspal</p>
<p>Sementara aku yang mendengarkanmu<br />
:sunyi meratap langit mencari kata-kataNya<br />
				Jakarta, Desember 2006</p>
<p>Waktu<br />
Betapa mengerti waktu itu kekasih<br />
dengan kaki letih tangan gemetar<br />
segera kau peluk aku sambil berkata-kata.<br />
Wajahmu semakin sayu petanda<br />
agar segera kita menuju ke kampung Matraman<br />
dan kampung Melayu untuk mencari malam<br />
yang sampai saat ini belum kita temukan.</p>
<p>Kecuali, jalan itu…<br />
masih saja sering kudengar isak tangis<br />
para lelaki dan perempuan<br />
karena gerobak-gerobaknya di bongkar paksa<br />
				Jakarta, Agustus 2007</p>
<p>Mengenalmu </p>
<p>mengenalmu<br />
adalah ingatan pada kota yang pernah menikam  aku<br />
di antara pembual di musimnya<br />
dan yang belum aku sadari<br />
:kini aku di antaranya…<br />
					Lampung, Agustus 2007</p>
<p>Tentang malam</p>
<p>tentang malam itu<br />
kau berkata:<br />
adalah malam tertatih langkah para peminta<br />
pada rapuh tongkat<br />
sambil menghitung kaki penuh bilur<br />
bermahkota baju kumal<br />
sobek bertambal jahitan kain lusuh<br />
tentang malam yang baginya<br />
adalah istirahat sementara<br />
adalah kubur sementara<br />
sekadar pejamkan mata dari perih dan letih<br />
menanti pagi lewat angan yang kusam<br />
menjemput luka<br />
menantiNya<br />
					Lampung, Juli 2007</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: segomegono</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-126</link>
		<dc:creator>segomegono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 09:23:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-126</guid>
		<description>&quot;TOEJOEHBELASAN&quot;
Setiap kali kalender berhampiran dengan bulan ke delapan,Agustus, kita selalu saja melihat berbagai kesibukan dari bangsa ini. Tidak ada diskriminasi di sini. Dari mulai ibu2 arisan, bapak-bapak majelis taklim, sampai para pemulung di bawah jembatan, semua bergegas mengibarkan bendera merah putih. Dari mulai yang ukuran mini seharga dua ribu perak yang dijual di jalanan, ditempel diberbagai merek mobil. Sampai yang ukuran jumbo, atau sekedar gelas plastik bekas airminum yang diwarnai merah putih.  

Tak peduli apakah itu sebuah Jaguar, sebuah angkot, ataupun sebuah gang di sebuah RT. Mereka bersuka cita, mereka rame -rame memasang bendera, saling berebut untuk mengekspresikan; &quot;kami merdeka&quot;

Tentu tidak terkecuali kita, ya kita. Termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini.
Tapi  apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?

Dan setiap kali orang meneriakkan &quot; merdeka&quot;, secara sembunyi-sembunyi bawah sadar kita mulai menjejerkan potongan gambar, persepsi dari kemerdekaan; Sepatu lars yang kotor, setelan warna khakhi yang lusuh tak terjamah air,  topi miring dengan pin kecil merah putih atau gambar garuda. Pasti, tak ketinggalan bambu runcing atau satu dua memegang senjata laras panjang tanpa magazine. Lori-lori yang mengangkut serdadu pulang dari kancah peperangan. Grafiti &quot;Merdeka Ataw Mati&quot; &quot;Sekali Meredeka Tetap Merdeka&quot; &quot;Berjoeang Sampai Titik Darah Penghabisan&quot;, dan sebagainya. Dan untuk lebih memberi warna kesyahduan dari jejeran gambar itu, berdengung di lubang telinga kita OST; &#039;Sepasang Mata Bola&#039;, &#039;Selendang Sutera&#039; dan &#039;Tabur Bunga&#039; dari Alm.Syed Husin Mutahar sang pembawa bendera pusaka.

Memang, sekarang ini Undang-Undang mengatakan bahwa; Kemerdekaan adalah hak setiap warga negara.

Tapi tahukah tuan, apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?

MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA !!!!

Kami Oetjapken Selamat Oelang Tahoen Kemerdekaan Toejoeh Belas Agoestoes Seriboe Sembilan Ratoes Empat Poeloeh Lima.
Tabiek.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;TOEJOEHBELASAN&#8221;<br />
Setiap kali kalender berhampiran dengan bulan ke delapan,Agustus, kita selalu saja melihat berbagai kesibukan dari bangsa ini. Tidak ada diskriminasi di sini. Dari mulai ibu2 arisan, bapak-bapak majelis taklim, sampai para pemulung di bawah jembatan, semua bergegas mengibarkan bendera merah putih. Dari mulai yang ukuran mini seharga dua ribu perak yang dijual di jalanan, ditempel diberbagai merek mobil. Sampai yang ukuran jumbo, atau sekedar gelas plastik bekas airminum yang diwarnai merah putih.  </p>
<p>Tak peduli apakah itu sebuah Jaguar, sebuah angkot, ataupun sebuah gang di sebuah RT. Mereka bersuka cita, mereka rame -rame memasang bendera, saling berebut untuk mengekspresikan; &#8220;kami merdeka&#8221;</p>
<p>Tentu tidak terkecuali kita, ya kita. Termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini.<br />
Tapi  apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?</p>
<p>Dan setiap kali orang meneriakkan &#8221; merdeka&#8221;, secara sembunyi-sembunyi bawah sadar kita mulai menjejerkan potongan gambar, persepsi dari kemerdekaan; Sepatu lars yang kotor, setelan warna khakhi yang lusuh tak terjamah air,  topi miring dengan pin kecil merah putih atau gambar garuda. Pasti, tak ketinggalan bambu runcing atau satu dua memegang senjata laras panjang tanpa magazine. Lori-lori yang mengangkut serdadu pulang dari kancah peperangan. Grafiti &#8220;Merdeka Ataw Mati&#8221; &#8220;Sekali Meredeka Tetap Merdeka&#8221; &#8220;Berjoeang Sampai Titik Darah Penghabisan&#8221;, dan sebagainya. Dan untuk lebih memberi warna kesyahduan dari jejeran gambar itu, berdengung di lubang telinga kita OST; &#8216;Sepasang Mata Bola&#8217;, &#8216;Selendang Sutera&#8217; dan &#8216;Tabur Bunga&#8217; dari Alm.Syed Husin Mutahar sang pembawa bendera pusaka.</p>
<p>Memang, sekarang ini Undang-Undang mengatakan bahwa; Kemerdekaan adalah hak setiap warga negara.</p>
<p>Tapi tahukah tuan, apa sejatinya sebuah kemerdekaan ?</p>
<p>MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA !!!!</p>
<p>Kami Oetjapken Selamat Oelang Tahoen Kemerdekaan Toejoeh Belas Agoestoes Seriboe Sembilan Ratoes Empat Poeloeh Lima.<br />
Tabiek.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bensohib</title>
		<link>http://bensohib.wordpress.com/about/#comment-58</link>
		<dc:creator>bensohib</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 21:20:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-58</guid>
		<description>jadi, mshdq ini sebenarnya siapa? soalnya setahu ane, Golagong itu itu gudangnya novel. Dan beliau itu kalau gk salah tuan rumah dari ode kampung/kumpulan sastrawan se Indonesa!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi, mshdq ini sebenarnya siapa? soalnya setahu ane, Golagong itu itu gudangnya novel. Dan beliau itu kalau gk salah tuan rumah dari ode kampung/kumpulan sastrawan se Indonesa!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
