Saya tidak senang baca koran, apalagi Kompas. Karena saya merasa sekarang ini untuk membaca/mendengar+melihat berita aktual, kita bisa mengakses dari berbagai sumber. Saya selalu lebih senang memilih mendapatkannya dari “Medium Bodoh” yang namanya televisi.
Tapi tidak tahu kenapa, hari ini saya terjerumus membaca Kompas ( Selasa 27 Nov.07 ). Ada sebuah artikel cukup menarik, oleh DR.Yudi Latif, ‘Kepemimpinan Transformatif,” Dia seorang Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan. Bagian yang sangat menarik adalah,;
“Di Multazam sambil merapatkan tubuh ke dinding Kabah, yang pertama terlintas dalam doaku adalah Indonesia: ‘Ya Allah jadikan negeriku tempat yang aman. Berkatilah warganya dengan kemakmuran dan kebahagiaan.Tumbuhkanlah para pemimpin yang lebih besar dari dirinya sendiri’
Seperti Ismail siap disembelih, ucapan Sherif Haramain yang menerima rombongan terasa menusuk kalbu.’ Indonesia tempat bermukim seperlima pemeluk Muslim dunia, terlalu penting untuk dilupakan dan terlalu menjanjikan untuk disia-siakan’.”
Saya tidak berkehendak memberi komentar atas tulisan Yudil yang sangat menyentuh ini. Saya hanya ingin menyambung doa nya walau secuil, dibandingkan dengan doa seperlima ummat Muslim dunia yang ada di Indonesia ( bayangkan, sekitar 130.000.000. jiwa ) yang setiap jumat, dipanjatkan oleh puluhan juta ummat menembus langit. Atau doa yang diserukan setiap hari oleh jutaan jamaah Majlis Taklim.
Karena malu, saya lirih berdoa, seperti ini; Ya Allah – berilah kami umat Islam, para Juru Dakwah, Dai, Mubaligh, serta para Guru, yang setiap saat mau menganjurkan ummatnya untuk membaca dan menonton, serta mau menggalang dana untuk menerbitkan dan mendirikan station ( radio/TV), khusus yang bernafaskan ke –Islam-an. Karena sampai sekarang Ya-Allah, kasinahilah kami ummat sedemikian besar ini, belum punya Koran Harian, Tabloid, Majalah, Radio dan Televisi, yang relatif berkwalitas dan punya jangkauan nasional.
Ya – Allah kasihanilah kami, ummat dengan 130.000.000. jiwa ini, untuk dapat memperbanyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan ( dari TK sampai Perguruan Tinggi ), dengan standar mutu yang cukup dan biaya sekolah yang terjangkau bagi sebagaian besar ummat.
Kami tidak menutup mata Ya – Allah atas pertolongan dan izin-Mu, sehingga ummat dapat mendirikan sekolah seperti Al-Azhar Indonesia. Tapi ini masih terlalu kecil dan sedikit untuk bisa menampung anak-anak ummat, yang lebih banyak di jalanan dari pada di bangku2 sekolah.
Kalau Islam sebagai Agama pada waktu itu bisa menyebar dengan cepat dan pesat ke seluruh penjuru dunia, mengapa tradisi perguruan dengan kwalitas internasional semacam Al Azhar Kairo, yang didirikan pada 22 Juni th 972, tidak bisa ikut menyebar bersamanya ?
Ya – Allah, ajarilah kami untuk menjadi pandai tidak hanya membangun masjid, tapi juga cekatan mendirikan balai pengobatan, puskemas dan rumah sakit-rumah sakit Islam.
Ya Allah, kasihanilah kami, ummat terbesar yang selalu hanya berada di pinggiran negeri ini.
Ya Allah-kabulkanlah.Amin.
Sebetulnya masih banyak yang perlu dikasihani dari ummat ini, tapi pasti terlalu panjang untuk sebuah tulisan di blognya Ben Sohib. Yakin, Anda masih bisa melanjutkannya, lalu- tolong Ben- dikumpulkan. Dan dijadikan DOA AKHIR TAHUN nanti. Afwan.
boleh tahu, apa itu buku bermutu?
bingung, neeh.
By: mshdq on July 3, 2007
at 11:10 pm
begitu byk buku, begitu sedikit waktu makanya jgn baca kerja…. buku dipikirin duiiiit, anak bini belon makan, tau
By: arman on July 10, 2007
at 10:52 am
baca buku kiat-kiat cari duit!
By: bensohib on July 10, 2007
at 12:12 pm
Memang buku membingbing tapi jangan teoritis man… bangsa ini perlu gerakan bkn teori-teori doank… JADI CERDAS DAN KREATIVE, TUL GA?
By: arman on July 11, 2007
at 10:49 am
buku ga cuman yang ‘itu’
alam semesta ini lah buku, makanya Rasul di suruh Iqro’
hanya sedikit yang bener2 bisa membaca (Iqro) alam semesta
By: savic on October 22, 2007
at 7:12 am
DOA KITA KEMANA LARINYA ?
Saya tidak senang baca koran, apalagi Kompas. Karena saya merasa sekarang ini untuk membaca/mendengar+melihat berita aktual, kita bisa mengakses dari berbagai sumber. Saya selalu lebih senang memilih mendapatkannya dari “Medium Bodoh” yang namanya televisi.
Tapi tidak tahu kenapa, hari ini saya terjerumus membaca Kompas ( Selasa 27 Nov.07 ). Ada sebuah artikel cukup menarik, oleh DR.Yudi Latif, ‘Kepemimpinan Transformatif,” Dia seorang Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan. Bagian yang sangat menarik adalah,;
“Di Multazam sambil merapatkan tubuh ke dinding Kabah, yang pertama terlintas dalam doaku adalah Indonesia: ‘Ya Allah jadikan negeriku tempat yang aman. Berkatilah warganya dengan kemakmuran dan kebahagiaan.Tumbuhkanlah para pemimpin yang lebih besar dari dirinya sendiri’
Seperti Ismail siap disembelih, ucapan Sherif Haramain yang menerima rombongan terasa menusuk kalbu.’ Indonesia tempat bermukim seperlima pemeluk Muslim dunia, terlalu penting untuk dilupakan dan terlalu menjanjikan untuk disia-siakan’.”
Saya tidak berkehendak memberi komentar atas tulisan Yudil yang sangat menyentuh ini. Saya hanya ingin menyambung doa nya walau secuil, dibandingkan dengan doa seperlima ummat Muslim dunia yang ada di Indonesia ( bayangkan, sekitar 130.000.000. jiwa ) yang setiap jumat, dipanjatkan oleh puluhan juta ummat menembus langit. Atau doa yang diserukan setiap hari oleh jutaan jamaah Majlis Taklim.
Karena malu, saya lirih berdoa, seperti ini; Ya Allah – berilah kami umat Islam, para Juru Dakwah, Dai, Mubaligh, serta para Guru, yang setiap saat mau menganjurkan ummatnya untuk membaca dan menonton, serta mau menggalang dana untuk menerbitkan dan mendirikan station ( radio/TV), khusus yang bernafaskan ke –Islam-an. Karena sampai sekarang Ya-Allah, kasinahilah kami ummat sedemikian besar ini, belum punya Koran Harian, Tabloid, Majalah, Radio dan Televisi, yang relatif berkwalitas dan punya jangkauan nasional.
Ya – Allah kasihanilah kami, ummat dengan 130.000.000. jiwa ini, untuk dapat memperbanyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan ( dari TK sampai Perguruan Tinggi ), dengan standar mutu yang cukup dan biaya sekolah yang terjangkau bagi sebagaian besar ummat.
Kami tidak menutup mata Ya – Allah atas pertolongan dan izin-Mu, sehingga ummat dapat mendirikan sekolah seperti Al-Azhar Indonesia. Tapi ini masih terlalu kecil dan sedikit untuk bisa menampung anak-anak ummat, yang lebih banyak di jalanan dari pada di bangku2 sekolah.
Kalau Islam sebagai Agama pada waktu itu bisa menyebar dengan cepat dan pesat ke seluruh penjuru dunia, mengapa tradisi perguruan dengan kwalitas internasional semacam Al Azhar Kairo, yang didirikan pada 22 Juni th 972, tidak bisa ikut menyebar bersamanya ?
Ya – Allah, ajarilah kami untuk menjadi pandai tidak hanya membangun masjid, tapi juga cekatan mendirikan balai pengobatan, puskemas dan rumah sakit-rumah sakit Islam.
Ya Allah, kasihanilah kami, ummat terbesar yang selalu hanya berada di pinggiran negeri ini.
Ya Allah-kabulkanlah.Amin.
Sebetulnya masih banyak yang perlu dikasihani dari ummat ini, tapi pasti terlalu panjang untuk sebuah tulisan di blognya Ben Sohib. Yakin, Anda masih bisa melanjutkannya, lalu- tolong Ben- dikumpulkan. Dan dijadikan DOA AKHIR TAHUN nanti. Afwan.
By: segomegono on December 8, 2007
at 6:52 am