Posted by: bensohib | July 12, 2007

CERPEN: Cinta Lokasi

Sudah seminggu ini, setiap pagi cowok dan cewek itu duduk di bangku taman. Meski tak saling berpegangan tangan, mereka tampak akrab dan saling mencintai. Sebenarnya, sebagai penggemar olahraga pagi, sudah cukup lama mereka saling mengenal. Tapi baru seminggu ini mereka berpacaran. Mungkin, ini juga bisa disebut sebagai ‘cinta lokasi’. Benih-benih cinta muncul dan berkembang di lokasi di mana mereka hampir setiap hari berolahraga. Rupanya, dari seringnya mereka bertemu, bertegur sapa, dan berbicara, maka tumbuhlah rasa cinta di antara dua manusia itu. Maka di suatu pagi yang cerah, setelah selesai berolahraga pagi, Dicky –demikian nama cowok itu– mendekat dan langsung ‘menembak’; menyatakan cintanya pada Joan, si cewek. Meski dengan berpura-pura malu, Joan menerima cinta Dicky. Maka resmilah sejak pagi itu mereka ‘jadian’.

Pagi itu, dua sejoli itu duduk di bangku taman. Berdua mereka sedang merancang acara ulang tahun Dicky yang sekaligus akan dimanfaatkan sebagai pengumuman bahwa mereka benar-benar jadian. Mereka berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Dicky, dengan mengundang teman-teman sesama penggemar olahraga pagi di taman itu. Bagaimanapun, berakhirnya masa jomblo ini harus dirayakan. Sudah berbilang tahun Dicky dan Joan menjadi jomblo dengan kisah sedihnya masing-masing.

Setelah ditetapkan waktu dan berapa orang yang akan diundang, mereka berdua bangkit dan berjalan menuju mal tak terlalu jauh dari situ. Mereka hendak membeli perlengkapan pesta seperti piring karton, sendok garpu plastik, sedotan, balon udara, topi kerucut, kertas warna-warni, kue tart, dan juga lilin-lilin kecil sebanyak 79 batang.

Saat membayar di kasir, Dicky berbisik mesra di telinga Joan, “Pasti kasir itu menyangka, barang-barang yang kita beli itu untuk cucu-cucu kita.”

Joan tersenyum dan mencubit lengan Dicky. Sepasang kakek-nenek itu tampak mesra sekali.

*****

Posted by: bensohib | July 6, 2007

MBAH MARIJAN FOR PRESIDENT

Omong-omong soal calon presiden RI mendatang, sudah ada kelompok yang mengusung ust. Abu bakar Ba’asyir sebagai calon presiden masa depan. Habib Riezek Shihab juga menjadi salah satu kandidat. Selain kedua tokoh itu, ada kira-kira 8 tokoh lagi yang dijagokan. Pertimbangannya: mereka adalah orang-orang yang paling getol menegakkan syariat di Indonesia.

Dalam sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, semuanya itu sah-sah saja. Sama sahnya kalau saya mengusulkan Mbah Marijan sebagai calon presiden.

Ada beberapa pertimbangan mengapa saya menjagokan beliau.

Pertama, Mbah Marijan seorang pemberani. Bayangkan, pada gunung yang diperkirakan akan meletus saja beliau tidak takut, apalagi terhadap tekanan Amerika. Jika saja saat sidang DK-PBB tentang nuklir Iran itu Indonesia dibawah kepemimpinan Mbah Marijan, dipastikan Indonesia akan tampil penuh harga diri dan berani mengatakan TIDAK pada resolusi yang disponsori oleh Amerika tersebut. Tapi karena bukan beliau presidennya, maka ABSTAIN pun pemerintah kita tidak berani.

Kedua, Mbah Marijan adalah orang yang sangat dekat dengan alam. Karena kedekatannya itu, beliau sanggup membaca alam. Masih ingat kasus Wedus Gembel, kan?

Mengurus negara yang sering diamuk bencana alam seperti negari kita ini, dibutuhkan seseorang yang benar-benar dekat dengan alam. Alam akan dekat dengan kita jika kita mendekat dengan alam. Penggundulan hutan, penggerusan daerah resapan air,  dan penambangan secara semena-mena, akan mengakibatkan banjir (baik banjir air maupun lumpur panas). Dan yakinlah, semuanya ini tidak bisa diatasi dengan tangisan. Apalagi kalau tangisan itu sangat mungkin ditujukan sebagai ‘tebar pesona’. Alam tidak bisa dibohongi dengan air mata buaya.

Ketiga, Mbah Marijan belum pernah menerima dana non budjeter dari Rokhmin D.

Keempat, Mbah Marijan orangnya pluralis dan egaliter. Di negara yang heterogen seperti Indonesia ini, diperlukan seorang pemimpin yang berjiwa pluralis, egaliter dan juga toleran. Diperlukan pemimpin yang bisa menghargai perbedaan. Buktinya, meski sudah berusia lanjut, beliau masih bersedia menjadi bintang iklan untuk sebuah merek minuman suplemen bersama artis-artis muda.

Jadi, Roso-roso!…..Mbah Marijan For President!

Posted by: bensohib | July 1, 2007

MASJID AL-HEBOH

Tempat ibadah apa yang paling heboh? siapapun rasanya akan sepakat; masjid jawabnya. Untuk sebuah masjid kecil yang menampung sekitar 100 0rang jama’ah saja, dipastikan mempunyai corong/pengeras suara sebanyak 4 buah. Corong-corong yang dipasang di atas atap masjid itu meneriakkan azan dan suara-suara lainnya dari dalam masjid ke empat penjuru mata angin. Akibat dari kehebohan ini, dalam suatu kompleks perumahan, harga rumah yang berdekatan dengan masjid berbeda harganya dibandingkan dengan yang jauh dari masjid. Yang dekat masjid lebih murah harganya. Hal ini dikarenakan penghuni rumah yang berdekatan dengan masjid itu akan menghadapi resiko ‘keberisikan’. Polusi suara itu bisa berlangsung sepanjang hari. Dari mulai azan, komat, shalat, doa, zikir, tahlil, dan tahmid. Apalagi kalau malam Lebaran, acara takbiran yang disiarkan secara on air dari dalam masjid bisa berlangsung sampai menjelang subuh. Bagi yang ingin terjaga sepanjang malam lebaran, silakan berumah di sebelah masjid.

Mungkin sudah saatnya dipikirkan untuk membangun masjid yang ramah lingkungan; masjid yang tidak mengganggu tetangga. Sebuah masjid yang tenang dan damai. Tempat orang dengan syahdu menyembah Tuhannya.

Kebanyakan orang menganggap menyiarkan suara-suara dari dalam masjid dengan corong pengeras suara itu sebagai syi’ar. Inilah contoh pemahaman tekstual yang paling dungu. Syi’ar yang artinya sama dengan siar (menyiarkan) dipahami secara mentah-mentah sebagai ’menyiarkan dengan berteriak-teriak/dengan pengeras suara (agar terdengar di banyak telinga orang)’

Akibat dari pemahaman ini, jadilah masjid sebagai tempat ibadah yang paling heboh. Masjid menjadi tempat ibadah yang mewajibkan adanya corong pengeras suara di atapnya, agar sebanyak mungkin orang mendengar berbagai macam suara ’da’wah’ dari dalam masjid. Bagi para pengurus masjid, corong pengeras suara adalah wajib dalam pengertian yang sebenarnya. Rasa-rasanya belum pernah mendengar ada masjid (paling tidak di Jakarta) yang tidak memakai corong pengeras suara. Jika ada, saya sugguh-sungguh ingin berumah di sebelahnya. 

Posted by: bensohib | June 29, 2007

KULINER RELIGIUS

Berikut ini adalah tipologi makanan berdasarkan agama dan kepercayaan:

Islami: Nasi Kabuli, Gulai Kambing, Sate Kambing, Kambing Goreng.

Kristiani: Kue Tart, Pizza, Spagheti, Fruitcake,

Khong Hu Cu: Lontong cap gomeh, kue keranjang

Kejawen: Nasi Gudeg,

Posted by: bensohib | June 25, 2007

Reklame Ustad

Beberapa bulan belakangan ini, sering terlihat deretan umbul-umbul dan poster digital printing berukuran raksasa menghiasi sudut-sudut Jakarta (Selatan dan Timur, sepanjang yang terpantau selama ini).

Jangan keliru, Umbul-umbul dan poster-poster yang terpasang di tempat-tempat strategis itu bukannya reklame dari sebuah merek rokok yang sedang menjejalkan citra mereka ke batok kepala penduduk kota, melainkan ikhtiar dari beberapa ustad (dalam poster-poster itu ditulis Habib) dalam memperkenalkan dirinya dan majelis ta’lim yang dipimpinnya.

Entah siapa yang memulainnya, tapi nampaknya telah terjadi “perang poster” antara satu ustad dengan ustad lainnya. Artinya, ketika minggu ini terpasang sebuah poster berukuran 2m x 1m bergambar ustad fulan, minggu depannya akan terpasang poster bergambar ustad yang lainnya dengan ukuran 4m x 2m. Begitu seterusnya minggu demi minggu. Sampai kira-kira minggu yang lalu, ukuran poster sudah mencapai sekitar 10m x 5m.

Jika keadaan seperti ini dibiarkan berlarut-larut, tak dapat dibayangkan bagaimana akhirnya. Tapi yang jelas, perang poster ini cukup mengusik hati saya; sampai sebegitu parahkah industrialisasi agama di negara kita?@   

Posted by: bensohib | June 12, 2007

Tabik

Djikalaw toewan tiada berat di hati, marilah kita beroeloek salam.

« Newer Posts

Categories